Kiri Islam Mengedepankan Semangat Transformatif

Wawancara dengan Komarrudin Hidayat


BICARANYA jernih seperti tulisannya. Transkripsi wawancara dengan doktor filsafat lulusan Middle East University, Ankara, Turki tahun 1990 ini boleh dibilang tak memerlukan suntingan. Terkesan kaya referensi, sehingga setiap kali mengungkapkan pendapat sendiri, ia selalu memulainya dengan “hemat saya”.

Wawancara ini diadakan di kantornya di Departemen Agama, awal pekan lalu. Komaruddin Hidayat (46), sekarang, memang salah satu direktur di departemen tersebut. Memimpin Yayasan Paramadina yang terletak di bilangan Pondokindah Jakarta Selatan, setiap Jumat malam, ia masih memberikan kuliah di markas gudang pemikiran yang didirikan cendekiawan Nurcholish Madjid itu.

Hingga kini ia masih aktif sebagai pengajar filsafat di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tempat di mana ia menyelesaikan program sarjana. Ia memberi kuliah tentang materi pemikiran-pemikiran Karl Marx bagi mahasiswa-mahasiswa Jurusan Filsafat di sana. “Mas Dawam (M Dawam Rahardjo-Red) yang membawa Marxisme ke sini (IAIN Syarif Hidayatullah-Red),” katanya.

Berikut petikan wawancara tentang kajian kiri dalam pemikiran Islam.

Adakah teologi Islam yang mendapat inspirasi dari marxisme?

Secara historis orang Islam akan mengatakan, Islam lebih dahulu, tetapi secara metodologis banyak orang Islam mengambil inspirasi dari Marx yang datang belakangan. Sikap Islam atau sikap intelektual Islam mendua terhadap kapitalisme dan sosialime.

Masing-masing ada argumentasi kitab sucinya?

Ada. Itu sebabnya saya katakan ada dua macam. Yang satu memanfaatkan kapitalisme untuk menyerang sosialisme atau sebaliknya. Akan tetapi, sampai hari ini, umat Islam belum punya sebuah sintesa atau konsep alternatif yang sejajar dengan kapitalisme dan sosialisme sebagai kekuatan ideologi.

Sebagai bangunan ideologi, sosialisme punya metodologi, punya asumsi, punya utopia. Orang Islam berpikir normatif deduktif. Kurang historis empiris. Kalau kapitalisme dan sosialisme jelas historis empiris. Kalau Islam, retorikanya memang kencang, tetapi berpikirnya deduktif normatif, kurang historis empiris.

Namun, teologi mestinya berkembang?

Ya, berkembang. Hanya saja, Islam belum punya teologi perubahan sosial. Yang ada adalah teologi yang lebih vertikal untuk mendapat justifikasi normatif. Teologi dalam pengertian kontekstual, seperti Amerika Latin atau seperti teologinya marxisme dalam arti “tentu enggak ada God”, Islam belum punya. Kalau toh ada, ia tidak seartikulatif ideologi sosialisme dan kapitalisme.

Pernahkah sosialisme berpengaruh di dalam teologi Islam?

Ini memang tidak sederhana. Pada masa kejayaan Islam, zaman sultan-sultan, Islam memihak pada kapitalisme dalam arti akumulasi harta. Hanya sayangnya, kapitalisme waktu itu tidak diimbangi dengan kebebasan individu. Lihat saja Brunei dan Saudi yang kapitalistik. Liberasinya kurang.

Di sisi lain, hemat saya, sosialisme atau komunisme diambil sebagai suatu gerakan perlawanan ketika Islam tertindas.

Kapan dan di mana?

Sekarang ini. Di dunia Islam. Dulu, ketika Islam pegang hegemoni, mereka tidak berkepentingan dengan sosialisme. Sekarang, ketika terpinggirkan di hadapan hegemoni Barat, umat Islam membutuhkan metodologi, retorika perlawanan. Di sini kemudian marxisme memberikan alat analisis yang tajam. Dunia Islam sekarang merasa tertindas. Alat analisis yang paling enak, ya marxisme.

Itu disadari?

Tidak, kurang disadari karena orang Islam merasa mereka bisa mendapat justifikasi dari ajaran Islam sendiri.

Ajaran yang bagaimana?

Ajaran yang menekankan persamaan, keadilan, kemudian harta itu tidak boleh diakumulasi hanya untuk diri sendiri, kita ini harus merasa-kan empati dengan problem orang lain. Semua itu kuat sekali dalam Islam. Kita ini bagian satu tubuh. Jadi, solidaritas ukhuwah, brotherhood, ini kuat sekali retorikanya. Akan tetapi, hemat saya, itu merupakan sebuah artikulasi refleksi ketika dia dalam keadaan tertindas.

Bagaimana dengan tokoh seperti Iqbal, misalnya?

Nah, sekarang memang ada. Muhammad Iqbal dari Pakistan. Dia memuji revolusi Bolshevik dengan mengatakan communism is Islam without God, Islam is socialism with God. Yang kita tangkap, ide dasarnya pembebasan manusia, menghilangkan eksploatasi, sangat peduli pada nasib kemanusiaan. Karl Marx sangat peduli pada derita orang lain, sampai dia pun menderita. Hanya saja, praktik marxisme that’s something else. Namun, ide Marx sendiri sangat human.

Kemudian Hassan Hanafi. Jelas orang-orang yang hidup di wilayah dunia Islam, kemudian tumbuh dalam masyarakat yang feodalistik dan terce-rahkan di Eropa dan Amerika, mendapatkan suatu wawasan komparatif, humanisme, dan metodologis, sehingga dia mampu mengadopsi metodologi marxisme. Pada Hassan Hanafi dan Ali Syari’ati, marxisme yang diislamkan tampak sekali.

Bagaimana rumusannya?

Kiri Islam. Pertama, pemi-hakan kepada rakyat. Tema pokok kiri Islam adalah pemihakan kepada orang tertindas, yang di Syiah terasa kuat sekali karena merupakan kelompok tertindas dari mayoritas Sunni. Di situ spirit metodologinya bertemu, yakni perlawanan kepada hegemoni negara, hegemoni kaum kapitalis.

Kedua, titik tekan mereka pada komunalisme, populisme, persamaan, kemudian sangat kritis terhadap kapitalisme. Kiri Islam mengedepankan semangat transformatif, untuk tidak mengatakan revolusioner. Perubahan melawan status quo itu tampak, sementara sultan-sultan berada pada pendulum sebelah.

Salah satu tokoh yang memberikan sintesa itu Ali Syari’ati, salah satu desainer revolusi Iran, seorang sosiolog. Dialah yang mempertemukan spirit metodologi kiri Marxisme dalam bangunan epistomologi keislaman.

Konkretnya?

Misalnya tentang kelas. Di Quran ada kelas, tetapi analisis Ali tampak sekali kiri, yakni tumbuh dan berangkat dari asumsi, dari metodologi, dari ayat-ayat. Pembenarannya dalam Islam. Jadi, apakah marxis yang diislamkan atau melihat Islam dari marxis, terserah melihatnya.

Karena keduanya masing-masing punya material untuk itu?

Ya, jadi terserah bagaimana melihatnya karena dia tumbuh dalam wacana suasana batin melawan hegemoni Syah Iran yang sudah kebarat-baratan. Mengkritik kapitalisme memang paling mudah dengan marxisme. (ryi/wis/sal)

Sumber: Kompas, 15 April 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: