MenJadi Kiri-Liberal itu Seksi Sep 11, ’08 1:57 PM
for everyone

Saya suka hal-hal yang berbau kiri, meskipun saya bukan “kidal”. Kiri, dalam konteks etiket sehari-hari, misalnya tangan Kiri, sering diasosiasikan sebagai “tidak sopan”, agak terpinggirkan (bahkan dilupakan) karena perannya sebagai “organ pembersih pribadi”. Belum lagi, dalam kontek Adab islam, Tangan Kanan lebih dipandang sesuai syariat ketimbang tangan kiri. Makanya, Walikota Depok, Nur Mahmudi ismail, sampai harus mempopulerkan “gerakan makan dengan tangan kanan” lewat sebuah baliho besar di jalan protokol. asumsinya makan dengan tangan Kanan adalah sunnah Nabi SAW, sedangkan makan dengan tangan kiri –tidak ada riwayat hadist SAW yang menganjurkannya.

Justru itulah, Kiri semakin membuat saya kesengsem, karena perannya yang terpinggirkan itu, karena posisinya yang “yang dilupakan” itulah, Kiri–menurut saya–adalah kata yang penuh dengan “spirit”, penuh cita rasa ketertindasan yang memungkinkannya untuk memberontak, melakukan perubahan radikal, koreksi, kritisisme, revolusi, untuk menjungkir-balikkan hegemoni “Kanan”.

Dalam kajian sosial-politik, kiri adalah kata sifat yang dilekatkan kepada sebuah ajaran, gerakan, organisasi yang mencoba untuk melakukan perlawanan, perjungkir-balikkan keadaan, pemihakan kepada yang tertindas, untuk menghancurkan struktur kekuasaan yang mapan, status-quo-is, dan korup. Kiri adalah Antitesis dari Kanan, yang sering diasosiasikan sebagai kaum penindas, penguasa dzalim, birokrat korup, konservatif alias anti perubahan.

Berdasar itulah, kiri adalah terma yang disukai kaum aktivis progresif, untuk mencirikan pemikiran berikut aksi gerakannya yang radikal, atau mungkin–bagi para aktivis itu–Kiri kesannya Jantan, dalam arti teguh, kokoh, pendirian kuat, untuk menempuh bahaya, menghadapi caci-maki, demi sebuah tujuan : revolusi!.

Namun, dalam berbagai diskursus, seringkali polarisasi “Kiri versus Kanan” masih mengikuti pola lama, Kiri untuk kaum sosialis dan ide-ide marxist, sedangkan Kanan untuk kaum Liberal dan ide -ide liberalisme.

Kita tahu, bahwa Menurut Marxistme, akar penindasan pasca revolusi Industri adalah pemilikan pribadi terhadap sarana-sarana produksi yang dikuasai oleh kaum kapitalis yang padat modal. Pemilikan inilah yang menjadi fondasi struktur masyarakat kapitalis. Agar masyarakat menjadi lebih baik, maka struktur kapitalis itu harus dihilangkan, dihancurkan, dirombak dengan “to start from the basic”: menghilangkan Hak milik pribadi!. ide itulah menurut Manifesto komunis-nya MarX (dan Engels) dianggap sebuah perjuangan revolusioner untuk menciptakan masyarakat sosialis tanpa kelas.

Belum lagi ide besar Marx yang mengatakan bahwa Sejarah adalah dialektika (baca : konflik) antar kelas, yang menuntut perjuangan kaum proletar–sebagai pihak yang tertindas–untuk merebut kekuasaannya atas kaum borjuis yang menindas dengan cara revolusi sosial, semakin menegaskan bahwa citra “Kiri” yang dilekatkan kepada gerakan Marxist adalah Progresif!

Kiri ala MarXist menemukan momentnya ketika Lenin berhasil menciptakan rezim “diktator proletariat” lewat revolusi Bolshevik” tahun 1917 yang menggulingkan kekuasaan Tsar Rusia, disitulah Kiri menjadi ikon, simbol, tanda, sebagai bentuk perlawanan kepada “si dzalim’, dan pemihakan kepada “si lemah”.

Menyusul Mao Ze Dong– pengagum marxist– memproklamirkan negara “kiri” yang berhaluan komunis : Republik Rakyat China (RRC) pada tahun 1949 melawan kubu nasionalis pimpinan Chiang Kai sek–yang notabene adalah pemerintahan boneka Amerika serikat. Soekarno juga kesengsem Marxist dekade 60-an lalu membentuk poros jakarta-peking sebagai bentuk dukungan kepada Blok Timur yang berkiblat Komunis, membentuk Demokrasi terpimpin, ikut andil dalam membesarkan PKI, dan sangat tegas kepada kekuatan kontra-revolusioner yang digawangi oleh tentara, CIA, berikut antek kapitalis barat lainnya.

Bukan hanya itu, ajaran Marxist juga merembes ke pemahaman teologi. Banyak tokoh-tokoh agama yang memperdalam Marxist lalu mengawinkannya dengan doktrin agama kemudian muncullah apa yang disebut “Teologi PembebasaN”, yaitu sebuah kesadaran kritis keagamaan yang dimotori oleh para uskup katolik untuk memihak kepada rakyat miskin, mengangkat senjata, melakukan gerilya, memotori perubahan radikal untuk menggulingkan rezim kapitalis di amerika Latin–yang disokong oleh Amerika serikat. Gerakan kaum protestan yang dimotori Kardinal Sin di Filipina konon menganut “teologi Pembebasan” juga berhasil menggulikan pemerintahan korup Filipina dibawah rezim Ferdinand Marcos, pada tahun 1986.

Dalam Islam-pun, dalam beberapa Ayat Alqur’an lebih menghembuskan spirit “sosialisme” yaitu keberpihakannya kepada kaum yang tertindas : “Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas di muka bumi, dan hendak menjadikan mereka pernimpin dan menjadikan mereka yang mewarisi bumi.” (QS. 28:5). Lalu mengecam praktek menumpuk-numpuk harta (baca : modal) sebagai ideologi “mafsadat fi al-ardl” (kerusakan di muka bumi), diikuti dengan pembatasan pengunaan sumber daya alam sebagai berkah milik Allah SWT yang harus dikelola Negara untuk kemakmuran rakyat.

Contoh yang membuktikan bahwa Islam sangat dekat dengan Sosialisme dan Ide-ide Marxist adalah gerakan “Islam Kiri” yang dipelopori Hasan Hanafi, seorang intelektual asal mesir, lalu Ali Syariati-pemikir progresif asal Iran–juga turut menghembuskan api sosialisme ke dalam “Revolusi islam” tahu 1979. Apalagi, saat ini, ada semacam “kontak batin” antara negara-negara Islam dengan negara sosialis seperti Libanon (hizbullah), Iran dengan Bolivia dan venezuella. “simbiosis menguntungkan” itu dilakukan demi tema besar : melawan imperalisme global negara kapitalis–yang dalam hal ini digawangi oleh Arogansi Amerika Serikat.

Pasca runtuhnya Uni Soviet dekade 90-an, saya pikir polarisasi “Kiri-kanan” yang mengatakan KIRI diwakili oleh kaum MarXist dan kanan oleh pengusung Liberal (kapitalisme adalah salah satu contoh liberalisme ekonomi) sudah harus direvisi. Alasannya ?

Sosialis ternyata tampak indah sebagai jargon yang diucapkan diktator di atas podium ketimbang diterapkan dalam kehidupan sosial. Kaum sosialis ternyata tidak memihak kaum proletar, malah menjadi pembela mati-matian status quo rezim totaliter. Kaum sosialis ternyata menjadi pelindung para birokrat baru yang menguasai perusahaan-perusahaan milik negara. Di tangan kaum Sosialis, negara menjelma menjadi raksasa yang justru menindas rakyat. Negara adalah pusat kendali kekuasaan, hal ini mendorong kepala negara menjadi totaliter dengan masa jabatan yang tanpa batas, belum lagi kebijakan politiknya yang paranoid terhadap kritik sehingga dengan mudah melenyapkan setiap usaha oposisi dengan tuduhan “kontra revolusi”. Di tangan Kaum Sosialis, Negara menjadi organ yang angkuh, Rakyat di-nina-bobokan oleh nasionalisme semu, lalu diindoktrinasi untuk mau menjalankan “proyek-proyek pemerintah” yang keuntungannya justru hanya dinikmati oleh kaum birokrat negara yang korup.

Kita lihat Stalin yang dengan bengis membiarkan berjuta-juta rakyat mati kelaparan untuk menjalankan proyek “kolektivisasi paksa” sektor pertanian. Atau contoh yang mutakhir, bagaimana Soekarno menguasai pemerintahan ala demokrasi terpimpin buatannya sendiri, atau bagaimana Hugo Chavez, memaksa amandemen konstitusi untuk mengesahkan jabatan presiden untuk dirinya seumur hidup.

Di tangan Kaum sosialis sekarang, Kiri menjadi kehilangan Progresivitasnya, Kiri menjadi sebuah kemunduran (regresi), Kiri malah semakin kehilangan nadi perjuangannya. sebagai antitesis dari semua itu, ide liberal adalah pendobrak dari struktur ekonomi “usang” ala sosialis, kaum liberal memperjuangkan persamaan hak ekonomi seluruh warga, menyeru privitisasi dan deregulasi secara serentak, serta menciptakan kekuataan kaum pengusaha swasta yang mandiri dan efisien. Kaum liberal justru mendobrak kekuasaan kaum Birokrat–yang tampaknya menjadi “New Class” di era Sosialis. disisi lain, kaum liberal juga meruntuhkan hegemoni negara dengan ide pers bebas, akuntabilitas dan transparansi anggaran dan reformasi di bidang pajak agar peran sektor swasta tidak lagi berbelit-belit oleh kendala birokrasi yang rumit. Dengan demikian, dalam konteks dunia Pasca komunis, kaum liberal membentuk citra progresif dan kekuatan alternatif yang dominan, oleh karenanya Polarisasi “Kiri-kanan” harus dirubah menjadi KIRI untuk kaum liberal dan ide liberalisme, dan Kanan untuk kaum sosialis dan ide sosialisme.

Sekarang ini, sulit sekali bagi negara-negara dunia untuk berkelit dari liberalisme entah itu dalam bidang politik atau ekonomi. Di Malaysia, gaung gerakan liberal yang dimotori Anwar ibrahim sangat menakutkan rezim PM Badawi, Di China, sektor ekonominya sudah menganut kapitalisme, dan hasilnya sungguh mencengangkan : bahwa China kini hampir dipastikan sejajar dengan negara adidaya, Amerika serikat, terutama pasca Olimpiade Beijing yang menghebohkan dunia itu, meskipun di bidang politik, Partai komunis China (PKC) masih konsisten dengan ide sosialisme Mao Ze Dong yang usang itu. Di Rusia, di tangan Vladimir Putin, kapitalisme diterima sebagai sebuah niscaya pasca keruntuhan uni soviet, dan seterusnya.

Jadi menurut saya, jika ada beberapa tokoh entah kaum nasionalis ataupun agama yang tampak tergila-gila dengan ide sosialis semacam Nasionalisasi aset, saya rasa mereka ingin mengkampanyekan sesuatu yang sudah ketinggalan zaman atau sekedar mengikuti “trend” bahwa sosialisme gaya baru yang makin merebak di Amerika Latin bisa dicontek oleh Indonesia, meskipun untuk itu, harus mengorbankan pondasi demokrasi yang telah dibangun selama ini.

Dalam Konteks teologi, ternyata kaum liberal dan ide liberalisme mampu merembes ke dalam penafsiran baru atas doktrin agama, oleh karenanya, saat ini Muncul gerakan  “Islam iberal”. Liberalisme ternyata mempunyai akar dalam islam. Dan kita lihat, Kaum islam Liberal begitu kritis dan progresif melakukan pembaruan terhadap doktrin islam yang notabene warisan para ulama fikih abad ke 3 hijriyah–yang tentu saja sudah ketinggalan zaman dalam konteks demokrasi liberal sekarang ini. Dan hal ini harus dibayar mahal, beberapa tokoh–beserta pengikutnya mengalami pengusiran, intimidasi, di fatwa mati, di caci-maki, dilaknat, di tuding agen asing, dikeroyok bahkan dibunuh. Kita lihat disini, progresifitas gerakan ada di tangan kaum liberal, kritisisme juga menjadi bagian dari pemikiran islam liberal, sekaligus juga alternatif cerdas tehadap “Islam Kanan” yang ditandai dengan Konservatisme, peng-agungan terhadap masa lalu (lihat bagaimana “islam kanan” sangat bangga jika disebut Salafi yang artinya masa lalu) dan pada titik ekstrimnya menghalalkan kekerasan atas nama islam.

Bisa dikatan bahwa Islam liberal adalah Kiri dalam penafsiran islam, kapitalisme adalah Kiri dalam Mahdzab ekonomi, sedangkan demokrasi liberal adalah Kiri untuk sistem politik. Pendek kata, menjadi Kiri yang liberal itu seksi.

Sumber : Ryono institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: