Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
1
ISLAM KIRI:
MELAWAN KAPITALISME MODAL DARI WACANA
MENUJU GERAKAN
Eko Supriyadi
LISENSI DOKUMEN
Copyleft: Digital Journal Al-Manar. Lisensi Publik. Diperkenankan untuk melakukan
modifikasi, penggandaan maupun penyebarluasan artikel ini kepentingan pendidikan dan
bukannya untuk kepentingan komersial dengan tetap mencantumkan atribut penulis dan
keterangan dokumen ini secara lengkap.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
2
ISLAM KIRI
MELAWAN KAPITALISME MODAL
DARI WACANA MENUJU GERAKAN
Penulis : Eko Prasetyo
Pengantar : Dr. Mansour Fakih
Tebal buku : 365 halaman
Penerbit : Insists Press & Pustaka Pelajar
KETIDAKBERDAYAAN ISLAM MEWARNAI GERAK SEJARAH
Realitas yang tampak di depan mata percaturan dunia saat ini menunjukkan betapa
umat Islam berada pada posisi marginal, tertindas, dan subordinat. Permasalahan utama
yang muncul pada umat Islam pada umumnya terkait dengan faktor keterbelakangan
ekonomi, sosial, dan instabilitas politik. Upaya kritis untuk menyelesaikan permasalahan
ini mendesak untuk dilakukan demi menyelamatkan Islam dari kemunduran dan benturan
bertubi-tubi dari arus global. Tumpuan utama kemunduran tersebut jelas berawal dari
kemiskinan yang melanda sebagian besar masyarakat di negeri-negeri Muslim sendiri. Efek
domino atas fenomena kemiskinan muncul dalam beragam wajah dan gejala, dari
kemerosotan moral, kriminalitas, masalah kesehatan, kedaulatan dan independensi negara,
bahkan sampai menghambat aktivitas ritual keberagamaan umat.
Sebelum menuju gagasan alternatif untuk memecahkan permasalahan tersebut,
maka perlu terlebih dulu dilakukan pemetaan corak pandangan kaum Muslim sendiri
terhadap permasalahan kemiskinan. Setidaknya ada beberapa sudut pemikiran terhadap
kemiskinan, yaitu tradisionalis, modernis, liberal, revivalis, dan transformatif.
Pemikiran tradisionalis percaya bahwa permasalahan kemiskinan umat pada
hakekatnya adalah ketentuan dan rencana Tuhan. Masalah kemiskinan dan marginalisasi
tidak jelas kaitannya dengan globalisasi dan neoliberalisme. Ia justru dianggap sebagai
ujian atas keimanan seorang yang tidak diketahui manfaat dan mudharatnya, ataupun
petaka di balik kemajuan dan pertumbuhan serta globalisasi bagi umat manusia dan
lingkungannya kelak. Akar teologisnya bersandar pada konsepsi sunni tentang
predeterminisme (takdir), ketentuan dan rencana Tuhan sebelum manusia diciptakan. Hal
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
3
ini terutama dianut oleh gologan assyariah, mereka menganggap manusia tidak memiliki free
will untuk menciptakan sejarah mereka sendiri.
Pemikiran kaum modernis maupun liberal terhadap kemiskinan dan keterbelakangan
pada dasarnya sepaham dengan pemikiran modernisasi sekuler. Mereka percaya bahwa
masalah yang dihadapi kaum miskin pada dasarnya berakar pada sikap mental yang salah,
budaya yang tidak mendukung atau wacana teologi mereka. Bukan dilihaat dari struktur
kelas, gender dan sosial sebagai pembentuk nasib masyarakat. Bagi mereka, ummat harus
berpartisipasi dan mampu bersaing dalam proses industrialisasi dan globalisasi serta proses
pembangunan. Kemiskinan tidak ada sangkut pautnya dengan neoliberalisme dan
globalisasi. Kalau perlu justru umat Islam dipersiapkan untuk menjadi liberal agar mampu
bersaing dalam globalisasi. Pandangan ini berakar dari pemikiran para reformis seperti
Muhammad Abduh Mesir dan Mustafa Attaturk di Turki serta beberapa pembaharu
lainnya. Asumsi dasar mereka adalah bahwa keterbelakangan ummat karena ummat Islam
melakukan sakralisasi terhadap semua aspek kehidupan.
Paradigma revivalis sering dilabeli dengan istilah fuldamentalisme. Ia melihat factor
ke dalam dan keluar sebagai akar penyebab persoalan kemiskinan dan kemunduran umat
Islam. Penyebabnya adalah karena semakin banyak umat yang memakai ideologi lain
sebagai pijakan ketimbang Al-Qur’an sendiri. Globalisasi dan politik bagi mereka hanyalah
agenda Barat dan konsep non Islami yang dipaksakan oleh masyarakat non Muslim.
Mereka menganggap telah dipinggirkan oleh apparatus developmentalis dan globalisasi.
Resistensi yang dilakukan mereka dengan menerbitkan buku-buku mengorganisir
kelompok diskusi dikalangan mahasiswa, menciptakan simbolisasi dalam bentuk cara
berpakaian atau proyek percontohan system kemasyarakatan dan ekonomi tertutup atas
Kapitalisme.
Paradigma transformatif adalah pikiran alternative dari ketiga yang lainnya.
Baginya, kemiskinan disebabkan oleh ketidakadilan system dan struktur ekonomi, politik
dan budaya. Keadilan menjadi prinsip fundamental dari paradigma ini. Fokus kerjanya
adalah selain mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya
transformai sosial. Pemihakan terhadap kaum miskin dan tertindas (dhu’afa) tidak hanya
diilhami oleh Al-Qur’an, tetapi juga hasil analisis kritis terhadap struktur yang ada. Islam
bagi kelompok ini dipahami sebagai agama pembebasan bagi yang tertindas, serta
mentransformasikan sistem eksploitasi menjadi sistem yang adil. Dan inilah yang
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
4
mendasari gerakan Islam kiri untuk mengambil posisinya dalam menghadapi problem
sosial yang dihadapi umat saat ini.
Umat Islam, terutama kelompok miskin tertindas, di era globalisasi kapitalisme
akan menghadapi gelombang kemiskinan struktural yang belum pernah mereka alami
sebelumnya. Golongan Muslim miskin membutuhkan teologi, paradigma dan analisis
sosial yang memihak pada mereka, itulah teologi bagi kaum tertindas, teologi yang
membebaskan mereka dari ketertindasan dan eksploitasi global. Bagi golongan miskin dan
marginal, kehadiran globalisasi lebih membawa ancaman ketimbang berkah.
Sebuah teologi yang memberi ruang bagi pembelaan kaum tertindas sangat
diperlukan dengan membentuk gerakan sosial (social movements). Tantangan terbesar yang
dihadapi adalah dukungan masa atas legitimasi teologis ini. Islam kiri dalam kenyataannya
tergolong kecil dari segi jumlah dan cenderung ada jarak dengan masyarakat. Tantangan
lain adalah kuatnya paradigma dominan penganut globalisasi neoliberalisme yang telah
berhasil menundukkan pemerintah dan Negara, melalui infiltrasi gagasan pasar bebas atas
setiap kebijakan negara sehingga mampu melindungi kepentingan mereka.
Dalam sejarah keagamaan telah dibuktikan, bahwa sebuah agama bisa
menyalakan revolusi dan meruntuhkan kekuasaan korup. Iman dalam konteks ini adalah
proses internal kenyataan dan dorongan menuju perubahan dan bukan mencari
penyesuaian atas realita yang ada. Jangan sampai agama justru dimanfaatkan untuk
mempertahankan dan mendukung status quo. Sikap keagamaan yang berlabel kiri ini
mengandung makna bahwa Islam adalah agama yang meletakkan kaum yang terdzalimi
sebagai pihak pertama yang harus dibela, dilindungi dan diperjuangkan. Islam kiri bukan
berarti ingin menegakkan kediktaktoran atau perombakan terhadap doktrin keagamaan
yang ada, melainkan lebih pada upaya untuk melakukan interpretasi dari sudut pandang
khusus yang justru sangat dibutuhkan keberadaannya namun banyak dilupakan oleh
sebagian besar umat Islam, yaitu untuk tujuan menegakkan keadilan bagi seluruh umat
manusia.
Dalam kenyataannya kesadaran teologis umat belum menyentuh berdampak
secara langsung terhadap kaum lemah. Gagasan egaliterisme ekonomi tidak masuk dalam
khasanah teologi sebagian besar umat lantaran kekayaan sebagian orang Islam begitu
besar, di sisi lain ketimpangan itu menimpa sebagian besar umat Islam yang jatuh dalam
penderitaan. Di sini agama telah kehilangan peran revolusioner nya karena menjadi
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
5
sekedar perkakas untuk sebuah pagelaran diskusi, paling yang berminat, akan menjadikan
agama sebagai komoditi seni yang menghibur. Sementara itu tujuan akhir Islam,
sebagaimana Sayyid Qutb, membangkitkan kemanusiaan manusia, membangunnya,
menyegarkan, dan mengibarkan kejayaan dan membuatnya dominan dalam segala aspek
kehidupan.
Untuk membangkitkan kesadaran kritis, umat perlu menoleh sejarah nabi,
dimana mereka diutus untuk melawan segala bentuk penindasan dan kesewenangan
penguasa. Mereka muncul untuk mengenalkan pada masyarakat tentang nilai-nlai keadilan
yang terus ditelikung oleh kepentingan penguasa. Bahkan penolakan para pembesar
Quraisy terhadap ajaran Muhammad, salah satu motifnya karena agama ini diikuti oleh
orang miskin yang derajadnya disejajarkan dengan golongan lain. Jika Muhammad hanya
mengajarkan ke-Esaan Tuhan tanpa menyerang tatanan ekonomi dan sosial yang pincang
serta tidak melarang riba secara keras, mudah saja suku Quraisy menerima Islam.
Perlawanan keras yang dilancarkan kaum Mekah bukan karena sikap keras Quraisy
terhadap ajaran Nabi, melainkan karena factor ekonomi dan politik, dimana mereka
khawatir ajaran Muhammad akan mengancam asset ekonomi yang mereka kuasai.
Muhammad ditakutkan akan membangun bentuk kekuasaan politik yang baru dalam
masyarakat oligarki yang telah ada. Sementara itu Islam di tangan Muhammad menjadi
kekuatan yang memberantas segala kesewenangan sehingga melaluinya sejarah tentang
harta mulai dirombak. Hal ini didasarkan karena harta dalam Islam juga dapat melalaikan
manusia dari ajaran Allah (QS.63:9), memandang bahwa Islam harta harus memiliki fungsi
social.
Nabi sadar bahwa bahasa bisnis dan ekonomi lebih mudah dipahami oleh
manusia dimanapun, karena manusia memiliki dorongan untuk mencari keuntungan.
Sehingga bahasa tersebut dipakai untuk media menyampaikan pesan, ayat-ayat Al-Qur’an
pun juga menyebut banyak kosa kata bernuansa ekonomi, seperti perdagangan, bangkrut,
untung, rugi, kekayaan, kemiskinan dsb. Demi membela kaumnya, Muhammad lebih
memilih memimpin kaum tertindas dan mengambil gaya hidup seperti mereka. Daya tarik
Islam bukan hanya pada isi wahyunya, melainkan didukung oleh semangat hidup dari
pemimpinnya. Dalam posisi seperti itulah dimensi-dimensi revolusioner Islam untuk
pembebasan secara sistematis telah dituangkan. Di sini Islam memiliki tiga prinsip penting
kekuatan social, yaitu:
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
6
1. Islam mendasarkan dakwahnya untuk aksi menuju perubahan positif. Belenggu
struktur menjadi perhatian utama dengan mengandalkan salah satunya pada
keimanan subyektif dalam diri setiap pribadi.
2. Keyakinan akan keunggulan dan kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama,
dengan ini segala pemecahan atas segala permasalahan dapat dicari alternatifnya.
3. Islam adalah rahmatan lil alamin, bersikap terbuka dan memberikan pencerahan
kehidupan manusia. Pemihakan diberikan kepada kebenaran, bukan pada
pemegang asset ekonomi, penyandang kekuasaan, dan petinggi masyarakat,
melainkan seluruh lapisan umat, utamanya mereka yang hak-haknya terampas.
4. Islam memiliki hubungan yang erat dengan ummat secara langsung, diharapkan
mampu mewujudkan sebuah metodologi bagi perubahan sejarah.
IMPERIALISME MODAL MENGGENCET DUNIA ISLAM
Jatuhnya kekuasaan politik Islam ditandai dengan ambruknya tiga kerajaan Islam
baru pada abad ke-16, yaitu utsmaniyyah di Asia kecil, Anatolia, Irak, Suriah, dan Afrika
Utara; safawwiyah di Iran; dan Mongol di India. Sejak kemundurannya, secara berangsur
negeri-negeri tersebut dibanjiri penetrasi modal dari kaum kolonialis. Penetrasi modal
pertama kali adalah pembuatan terusan Suez yang membawa bencana bagi kehidupan
ekonomi dan sosial mesir. Setelah itu berangsur pula penetrasi pada negara Iran, Aljazair,
Tunisia dan negeri muslim lainnya. Kepemimpinan Islam tampak sebagai kumpulan
aristokrat yang sukses menjadi elit tetapi pandangan politiknya konservatif. Potensi
revolusioner telah lumpuh oleh pembangunan yang bernuansa kapitalistik di negeri
mereka.
Dari kekalahan negeri-negeri Islam tersebut akhirnya merubah hubungan
ekonomi politik antara negara Muslim dan bukan Muslim. Nyatalah bahwa system
ekonomi dunia yang hidup saat ini bercorak eksploitatif. Setidaknya terdapat beberapa
karakteristik yang membuktikan hal ini, yaitu:
1. Promethean, yaitu menuju suatu penguasaan tanpa batas atas kekuatan materi untuk
kepentingan manusia. Sejak revolusi industri, Kapitalisme telah menancapkan
kakinya untuk mengubah dunia menjadi alat pemenuhan hasrat dan ambisi.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
7
2. Productiviste, yaitu memproduksi barang dan jasa sekaligus melipatgandakannya
tanpa batas rasional kebutuhan manusia. Tuntutan untuk mengkonsumsi terus
menerus suatu produk selalu dipropagandakan demi keuntungan kapitalisme.
3. Expansionisme, yaitu perluasan akses terhadap keberlangsungan hidup kapitalisme.
Di sini resources merupakan sasaran yang selalu diburu meskipun dengan cara-cara
kotor, seperti pembantaian suatu etnis dan penjajahan dan bentuk nekolim lainnya,
termasuk di dalamnya adalah penaklukan budaya masyarakat agar tunduk sebagai
konsumen setia produk-produk kapitalisme.
4. Marchand, yaitu system ekonomi dunia yang berjalan melalui perdagangan
internasional dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Keempat ciri ini bersinergi untuk menciptakan proses akumulasi kapital dalam skala besar.
Proses akumulai modal oleh Kapitalisme global kemudian menempuh langkah-langkah
strategis yang sangat merugikan negeri-negeri Muslim. Mereka mempergunakan
serangkaian issue yang pada dasarnya bertujuan membuka akses Kapitalisme yang lebih
luas tanpa hambatan. Senjata-senjata penghancur negeri muslim yang dilakukan AS dan
sekutunya antara lain adalah:
1. Isu terorisme sebagai jagal terhadap setiap negara yang tidak mematuhi kebijakan
AS. Disini Osama bin Laden dengan Al Qaeda direkayasa sebagai symbol isntitusi
teroris. Momok terorisme kemudian disusupkan ke dalam konstruk berfikir
masyarakat dunia, bahkan beroperasi melalui jaringan pemerintahan dan secara
tidak langsung pada umat Islam sendiri. Penerapan ISA Malaysia, dan UU
antiterorisme digalakkan di negeri-negeri Muslim merupakan bukti bahwa negeri
Muslim sendiri ketakutan dengan ancaman hantu terorisme sehingga ikut
melegitimasi proyek pembantaian massal AS. Dengan isu terorisme, gerakan Islam
yang semula menjadi lapisan oposisi yang disegani mulai diringkus dan dilabeli
sebagai kelompok garis keras. Dengan demikian gerakan antiterorisme bukan lagi
murni kemanusiaan melainkan tak lebih dari manuver politik yang hendak
memfungsikannya sebagai pengawas dan mendisiplinkan tatanan sesuai keinginan
Negara Barat. Artinya, terorisme membuat system kekuasaan internasional dapat
berjalan secara optimal dan politik pasar akan menuai sukses.
2. Isu HAM. Dengan dalih penegakan HAM maka banyak negeri muslim dihajar
embargo ekonomi dan politiknya yang berakibat pada penderitaan rakyatnya.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
8
Sejarah paling tragis pelanggaran hak asasi atas kemerdekaan berdaulat sekaligus
kekalahan umat Islam dunia adalah pendirian Negara zionis Israel yang dilegitimasi
oleh AS dan sekutu baratnya.
3. Isu demokrasi yang (sesungguhnya) ambivalen. Dengan berdalih demokrasi maka
AS gemar melakukan justifikasi dan vonis atas berbagai kasus internasional.
Standar ganda dan diskriminasi adalah ciri khas gaya AS. AS dianggap bukan
sebagai negara yang adil dan konsisten menegakkan hukum internasional. AS
sudah terlalu kasar untuk bersembunyi dari kedok-kedok ini. Banyak kasus
pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan zionisme Israel dan sekutu AS malah
dilegitimasi, sebaliknya terhadap negeri-negeri muslim AS tampil sebagai polisi
dunia yang bertindak bijak menegakkan hukum internasional. Dalam konteks ini
AS lagi-lagi memanfaatkan hak veto-nya untuk memutuskan setiap kebijakan
internasional yang berlawanan dengan misi AS.
4. Homogenisasi kebudayaan. AS telah berhasil mendominasi berbagai institusi
kebudayaan yang selalu mempropagandakan peradaban universal, padahal jika
ditilik hal itu hanyalah proyek homogenisasi kebudayaan ke seluruh dunia, yang
dengan itu proyek Kapitalisme menuai kemenangannya.
5. Memanfaatkan badan ekonomi dunia. AS bersama pemerintah Negara Barat
memainkan peran penting dalam jaringan institusi birokrasi dan kekuatan
multilateral lain yang mewujud kedalam badan-badan ekonomi dan perdagangan
dunia, seperti IMF, IGGI, CGI, WORLD BANK, WTO, dll . Melalui bantuan
dalam bentuk utang, Barat berusaha mendikte negeri-negeri muslim untuk
mematuhi tuntutan mereka.
Kapitalisme, bagaimanapun telah membawa dampak buruk yang tak bisa
dielakkan merugikan umat manusia. Sejak datangnya kapitalisme, dunia mengalami
musibah-musibah besar, seperti masalah kerusakan lingkungan, lobang ozon, gas rumah
kaca, penggundulan hutan, bencana alam, penyakit-penyakit baru, transformasi
kebudayaan yang bercorak homogenik, dan kejahatan social merajalela.
Kapitalisme telah berhasil membangun sekat-sekat yang rapi dengan meletakkan
fungsi dan kedudukan agama ke dalam wilayah yang sangat pribadi. Nilai-nilai ekonomi
diunggulkan ketimbang nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Dari sini
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
9
muncullah golongan sosial baru sebagai akibat sistem yang eksploitatif tersebut, yaitu kelas
sosial dengan pendapatan rendah yang diperoleh dari perburuhan tenaga oleh institusi
ekonomi Kapitalisme. Kapitalisme mengusung demokrasi dan liberalisme, akan tetapi
wacana ini hampir mustahil diwujudkan dalam tatanan ekonomi yang timpang. Slogan
persamaan dan kebebasan akhirnya hanya hadir untuk kalangan kelas sosial atas, tetapi
sebaliknya yang terjadi untuk kelas sosial bawah.
Mesin birokrasi diciptakan sesungguhnya juga merupakan cara Kapitalis untuk
menjaga berlangsungnya akumulasi modal secara terus-menerus dan mempertahankannya
dari berbagai hambatan teknis dan administrative dengan cara menetapkan aturan-aturan
yang harus ditaati bagi seluruh komponen proyek Kapitalisme. Dengan modal tersebut
maka kekuasaan dapat dikendalikan. Dengan modal pula hukum dapat direkayasa sesuai
kepentingan pemilik modal. Mereka melakukan kontrol efektif agar kepentingan ekonomi
tetap menguntungkan kelas berkuasa. Mereka mempertahankah “harmonisasi” antar
kelas-kelas dalam masyarakat dengan ikut menengahi konflik-konflik kelas yang acap kali
muncul sehingga keberadaan tatanan yang mereproduksi dan melestarikan ekonomi
borjuis selalu terjaga.
Dalam prakteknya, pembangunan Indonesia yang telah dipraktekkan negeri ini
lebih bernuansa neoliberal. Berikut ini adalah bukti nyata pengalaman kebijakan
pemerintah Indonesia yang terbukti berwatak neoliberal;
KEBIJAKAN
TUJUAN IMPLIKASI NYATA
Pemotongan
subsidi dan
belanja
pemerintah.
Mengurangi
permintaan yang
berlebihan dan
mengurangi
anggaran belanja
negara.
Terjadi pemotongan anggaran belanja dan
subsidi untuk pendidikan, pelayanan
kesehatan, sanitasi, penyediaan air bersih,
pengairan, tenaga listruk, pembangunan
sarana jalan dan transportasi. Hasilnya angka
kematian bayi dan ibu sangat tinggi karena
pelayanan kesehatan mahal. Jumlah mereka
yang putus sekolah besar akibat mahalnya
ongkos pendidikan. Tingginya angka
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
10
Kenaikan
angka suku
bunga.
Penurunan
tariff dan
kuota impor.
Swastanisasi
perusahaanperusahaan
negara.
Revolusi
hijau sektor
pertanian.
Alokasi sumber
daya modal
kepada para
penanam modal
yang sangat efisien
saja.
Peningkatan daya
saing di pasar
internasional dan
meningkatkan
efisiensi.
Menjadikan
perusahaan lebih
efisien dan dapat
berkompetisi
dalam masyarakat
internasional.
Peningkatan
produksi pangan,
khususnya padi,
kecelakaan karena minimnya dana perawatan
angkutan bagi kendaraan untuk mereka yang
miskin; kecelakaan kereta ekonomi paling
tinggi angkanya.
Kredit pada kenyataannya digunakan oleh
pemilik bank dan dimanfaatkan untuk
penggunaan yang konsumtif dan berakhir
dengan kemacetan yang ujung-ujungnya
adalah menumpuknya utang sektor swasta.
Efek lain ketentuan ini adalah berkurangnya
akses bagi pengusaha kecil dan petani-nelayan
terhadap kredit dan memicu inflasi sekaligus
mendorong munculnya spekulasi.
Diabaikannya industri-industri lokal,
mengurangi kemampuan swasembada pangan
dan justru meningkatkan impor barang
mewah sementara rakyat miskin tidak
sanggup memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Prasarana dan sarana publik beralih tangan ke
sektor-sektor swasta yang hanya
mementingkan perolehan laba ketimbang
kesejahteraan sosial masyarakat dan ongkos
pelayanan publik menjadi mahal sehingga tak
terjangkau rakyat miskin.
Asupan kimia yang tidak terkontrol telah
menyebabkan serangan hama pada tanaman
pangan bahkan menimbulkan kerusakan
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
11
Penghapusan
hambatan
terhadap
perusahaan
asing
(investor)
yang masuk.
Penerapan
sistem
hukum
patent.
melalui teknik
asupan, yang
berupa bibit
unggul, aplikasi
pupuk buatan,
pestisida dll.
Dapat membawa
masuk modal
produktif,
membuka lebar
peluang kerja,
membantu
industrialisasi dan
membentuk
jaringan pasar.
Sistem hukum
yang memberikan
perlindungan dan
jaminan atas hak
milik atas tanah,
kapital, bangunan,
temuan-temuan
bahkan budidaya
tanaman.
lingkungan yang parah; penggunaan teknologi
membuat banyak tenaga kerja tersingkir dan
harga pangan rendah karena produksi
berlimpah yang berujung pada kemiskinan
pada kaum tani.
Terjadi de-nasionalisasi dimana kepemilikan
asing terhadap kekayaan negara meningkat
pesat; tingginya impor barang setengah jadi
dan barang modal; besarnya aliran
keuntungan dan pendapatan investasi yang
keluar dimana mengarah pada proses dekapitalisasi
(capital flight); menciptakan
instabilitas moneter.
Monopoli pada penguasaan asset-aset
kekayaan publik, bahkan patent pada
tanaman telah berdampak langsung pada
monopoli hasil-hasil pertanian oleh
perusahaan-perusahaan trans-nasional; negara
harus membayar jika harus menggunakan
kekayaannya sendiri yang sudah dipatentkan
oleh orang asing.
Kenyataan ini berakibat pada; negara, sebagaimana ungkaan Nicos Poulantzas, mengambil
fungsi sebagai penjaga stabilitas politik dan pada masyarakat kapitalis, keadaan ini menjadi
kunci bagi terjaminnya akumulasi modal. Sebab bangunan Kapitalisme hanya berjalan
menurut fred block, adanya dua kondisi penting, yaitu pengembangan modal (capital
accumulation), dan Kapitalisme yang mampu memproduksi dirinya, karenanya eksistensi
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
12
negara kapitalis tergantung pada apakah sistem tersebut bisa memberi peluang
pengembangan modal.
Dalam fungsi seperti inilah negara dalam masyarakat Kapitalisme internasional
menjabarkan fungsi-fungsinya seperti ini:
1. Menciptakan kondisi sehingga pengembangan modal mampu berjalan lancar, baik
bagi pengusaha nasional maupun bisnis asing. Hal ini biasa disebut sebagai business
confidence.
2. Memeratakan kekayaan secukupnya supaya kaum buruh bisa mereproduksi dirinya,
dan supaya kaum buruh percaya bahwa mereka telah diperlakukan secara adil
sehingga mereka tidak membuat keributan yang dapat merusak suasana bisnis yang
baik.
3. Berperan sebagai polisi untuk mencegah gangguan terhadap sistem yang ada, serta
mengembangkan suatu idelogi yang membuat kaum buruh merasa diperlakukan
adil dalam sistem yang sebenarnya menguntungkan kaum kapitalis. Dengan teori
ini maka Kapitalisme internasional telah mengubah sistem dan peran sebuah
negara dari kendali oleh rakyat kepada kendali kapitalis.
Akumulasi modal dan pembangunan industri berwatak eksploitatif ini menjadi lebih besar
ketika ia memanfaatkan tiga unsur penopang, yaitu:
1. modal asing.
2. pemerintah dunia ketiga
3. borjuasi lokal
Tiga langkah ini juga diusung dalam berbagai media strategis dan penerapan
kebijakan. Demikian pula, berbagai perguruan tinggi maupun LSM secara serempak
membangun pusat kajian baru yang dikenal dengan Development Studies. Melalui
development studies ini proses penyebarluasan gagasan Kapitalisme di penjuru dunia
menjadi tercepatkan. Yakni melalui teknokrat, intelektual dan bahkan aktivis LSM dari
dunia ketiga yang menjadi pasar utama proyek tersebut (seperti lembaga dana
internasional, universitas, lembaga riset, badan perencanaan pembangunan). Secara
terkonsolidasi mereka menentukan apa yang harus dibicarakan, dipikirkan, diidamkan, dan
diarahkan menuju gagasan developmentalisme.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
13
Posisi borjuasi lokal dalam hal ini adalah mereka yang memiliki kedekatan
hubungan dengan penguasa, ia mendapat hak-hak istimewa khususnya dalam pengenaan
tariff, tingginya subsidi pemerintah, dan pemberian konsensi yang sangat besar. Ia
kemudian mempengaruhi berbagai bentuk peraturan khususnya dalam kaitan dengan
pembatasan investasi asing.
Nasionalisme juga merupakan ideologi yang dijadikan selubung bagi kepentingan
borjuasi lokal untuk menumpuk keuntungan. Dalam konteks ini maka pemodal memiliki
kekuasaan veto atas negara, dan pemimpin negara. Beberapa program yang
mengatasnamakan kepentingan umum sesungguhnya merupakan kegiatan yang
berorientasi penumpukan modal. Sehingga mereka menjalankan program pembangunan
sembari menelantarkan kehidupan rakyat.
Kasus korupsi di Indonesia sesungguhnya adalah biang kebobrokan dan
kebangkrutan bangsa ini. Dalam hitungan riil, jika hutang Indonesia harus ditanggung
oleh seluruh penduduknya dari bayi hingga lanjut usia, maka tiap-tiap kepala harus
menanggung hutang sebesar 7 juta rupiah. Lemahnya sistem hukum dan rendahnya
moralitas penyelenggara pemerintahan dan hukum membuat korupsi ini semakin gemuk
dan sulit diberantas, karena melibatkan berbagai unsur dari hulu hingga hilir. Padahal
dampak kebobrokan tindakan ini harus ditanggung seluruh rakyat yang mayoritas masih
miskin.
Sisi yang kini juga telah mengalami penetrasi Kapitalisme adalah pendidikan.
Pendidikan diorientasikan bagaimana agar peserta didik mampu menghadapi tantangan
kerja. usaha paling utama untuk memenuhi kebutuhan ini adalah memformat kurikulum
agar cocok dengan kebutuhan ekonomi Kapitalistik. Pembangunan yang kapitalistik telah
mengantarkan lembaga pendidikan sebagai institusi yang berorientasi ganda, yaitu
pengabdian dan keuntungan. Pendidikan biaya tinggi adalah salah satu dampak dari
kapitalisasi pendidikan ini, disamping juga rendahnya alokasi anggaran pengeluaran untuk
sektor pendidikan dari pemerintah. Padahal pendidikan yang dituntut oleh situasi saat ini
adalah pendidikan yang membuat manusia berani membicarakan masalah-masalah
linkungan dan turun tangan dalam lingkungan tersebut, pendidikan yang mampu
memperingatkan dari bahaya jaman dan memberikan kekuatan untuk menghadapi bahaya
tersebut. Bukan pendidikan yang menjadikan akal menyerah dan patuh terhadap putusan
orang lain.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
14
Gerakan Islam mengalami kelumpuhan menghadapi fenomena tragis ini karena
terjadinya krisis keyakinan yang merata pada semua komunitas. Kata kuncinya adalah,
umat Islam telah kehilangan kesadaran bahwa kalimat keadilan dan pemerataan menjadi wahyu yang
harus diturunkan menjadi bahasa aksi. Gerakan Islam kurang mampu memotivasi
pengikutnya untuk keluar dari krisis identitas sebagai bangsa yang merdeka. Akibat dari
ketidakmampuan menyusun bahasa aksi dan selalu menggunakan pendekatan normative
maka ketika menghadapi tantangan mudah sekali terjatuh pada sikap pragmatis.
Pragmatisme itu pula yang menyebabkan gerakan Islam tidur pulas dalam ketidaksadaran
ketika kekejaman gerak modal terjadi pada umat.
Usaha-usaha pengembangan kesadaran kritis terhadap posisi negara banyak
diabaikan oleh gerakan Islam. Evolusi kaum terdidik Muslim sehingga menempati posisi
sebagai bagian dari kelas menengah ternyata hanya mengukuhkan hasrat yang tempramen
gerakan pembaharuan pada bidang-bidang yang sangat sektoral. Gerakan Islam miskin
akan kecakapan dalam melakukan reorganisasi kekuatan demi membela umat yang
tertindas. Secara paradoks sejarah menunjukkan bagaimana korban Tanjung Priok,
Lampung, Aceh, surut dari perhatian kaum pembaharu maupun ormas Islam yang besar,
seperti NU dan Muhammadiyah.
Strukture sosial dimana modal tumbuh dan berkembang kurang mendapatkan
perhatian serius dari kaum intelektual Islam. Kecilnya perhatian ini bisa disebabkan oleh
banyak faktor, diantaranya:
1. Pandangan umat Islam yang terlalu terpukau dengan gagasan-gagasan modern yang
terangkum dalam ideologi pembangunan. Keyakinan bahwa satu-satunya cara
untuk maju dengan mengikuti resep ekonomi pertumbuhan telah mendorong
banyak kaum intelektual Muslim untuk lebih memfokuskan pada bagaimana modal
kultural dari masyarakat industri harus tertanam.
2. Tidak memiliki alat abantu yang memadahi apalagi pertumbuhan pemikiran yang
mencoba untuk melakukan pendekatan struktural banyak diabaikan. Gagasan
pemikiran Islam lebih terjebak dan termotivasi untuk menanggapi isu-isu yang
sementara, sehingga selalu mengalami ketertinggalan ketika gerak masyarakat
begitu kencang. Keasyikan pembaharuan teologi keagamaan juga telah
mengaburkan wacana praksis yang justru erat dengan kehidupan umat.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
15
3. Lemahnya kesadaran kritis atau rendahnya pengawasan pada kekuasaan negara.
Padahal modal sebagai entitas kekuasaan mempunyai kewenangan informal yang
jauh lebih perkasa ketimbang negara, sebab negara telah dikooptasi oleh
kepentingan modal itu sendiri.
Untuk itulah diharapkan pola pemikiran keagamaan yang sedekat mungkin memiliki
hubungan erat dengan praksis sosial ekonomi masyarakat sehari-hari; sehingga makna
wahyu sebagaimana dinyatakan oleh pendekatan transformatif, harus menemukan
tempatnya dalam proses sosial. Inilah hakekat Islam kiri yang memilih perubahan
revolusioner sebagai cara perubahan. Islam yang melihat bahwa pembasmian tatanan yang
timpang adalah tugas prioritas dan sejajar dengan maksud turunnya agama. Islam kiri mengambil
perhatian utama bahwa suburnya ketidaadilan bukan semata karena kondisi internal
melainkan yang jauh lebih penting adalah faktor keterkaitan dengan konteks internasional.
Untuk mampu menjadi gerakan yang luas dan mendapat dukungan, Islam kiri
perlu merintis beberapa praktek yang akan mendekatkannya pada tujuan utama;
terciptanya tatanan keadilan. Disinilah pentingnya merumuskan gerakan Islam kiri dalam
beberapa praktek yang relevan dan memungkinkan untuk diterapkan pada masa
pemerintahan yang transisi berbau fasis saat ini:
1. Gerakan Islam perlu melakukan langkah advokasi terhadap pembelaan umat
tertindas. Dalam memanajemen dakwah , advokasi adalah jurus ampuh yang
mampu menggantikan tuntutan abstrak menjadi konkret, mendorong ummat
menggantikan kesadaran ideologi dengan ilmu sekaligus kesadaran subyektif
umat menjadi kesadaran obyektif. Kesadaran ideologi membuat umat menjadi
tertutup dan mudah dirangsang kecurigaannya sehingga selalu memandang diri
sebagai yang paling benar. Advokasi menjadi alat penekan efektif umat
terhadap elit politik yang sering mengatasnamakan berjuan untuk Islam. Pada
dasarnya kerangka kerja advokasi yang perlu diperhatikan, meliputi; perumusan
teologi pemihakan yang dapat diartikulasikan secara meluas.
2. Pada saat yang sama gerakan Islam masih mengalami kelemahan baik secara
ekonomi maupun politik. Dalam lingkup kerja yang luas gerakan Islam perlu
melakukan penataan sistematis melalui jaringan kerja internasional yang lebih
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
16
terlembaga. Bentuk kerja sama ini meliputi bidang-bidang strategis yang
mampu menjawab keluhan-keluhan umat.
3. Kemudian Islam kiri juga perlu menggali potensi media sebagai institusi
pembentuk opini. Perluasan pengaruh yang diciptakan oleh media massa secara
progresif telah merangsang pergeseran kekuasaan kelembagaan yang menjauh
dari masjid dan lembaga agama, yang sebelumnya berperan dalam mengontrol
arus gagasan dan informasai, menuju pusat-pusat dan jaringan simbolis dan
budaya baru. Dalam konteks ini kita menyaksikan betapa media memiliki
kemampuan dan pengaruh sosial yang luar biasa, khususnya dalam menentang
wewenang kelembagaan yang telah mapan. Gambaran yang dibuat media
mampu membangun stereotip. Yaitu suatu pola tertentu sebagai hasil cetakan
yang muncul mengenai gambaran realitas yang ada. Labelisasi terhadap gerakan
Islam yang mengarah kepada image buruk semisal kelompok garis keras,
terroris, dan fanatik, kebanyakan juga ulah dari media yang kontraproduktif
terhadap gerak Islam. Industri media memang merupakan bentuk perusahaan
komersial yang diorganisir menurut garis kapitalis. Media harus diarahkan
kepada pelurusan dan pemberitaan atas realitas tanpa suatu tendensi apapun.
Tumbuh pesatnya media harus dikontrol dengan media yang sejajar posisi
tawarnya untuk membangun opini masyarakat. Pesatnya pertumbuhan media
telah meluluhlantakkan budaya baca. Budaya buku yang sesungguhnya mampu
melatih kemampuan berfikir sistematis dan dalam telah dirusak oleh budaya
gambar. Peran gambar telah menggeser budaya wacana verbal tekstual. Media
semacam ini telah membawa pesan-pesan mutakhir barat yang mendorong
perubahan seksual (sexual permissiveness), perilaku agresif (agresiveness),
konsumerisme dan sekulerisme. Penetrasi nilai-nilai ini telah menempatkan
kedudukan media, menjadi “tirani kognitif”.
4. Selanjutnya, ketrampilan teknokratis perlu dikembangkan kemampuannnya agar
sejajar dengan lembaga pembuat kebijakan. Disini gerakan advokasi yang
dilakukan selain melayani kebutuhan untuk mengkritisi sebuah peraturan juga
dapat memfasilitasi pembuatan legal draft.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
17
Dari beberapa langkah diatas, Gerakan advokasi diharapkan mampu memberi
peran pembebasan kesadaran kalangan Muslim, dari kesadaran magic dan naïf menjadi
kesadaran kritis. Berdasarkan pada model gerakan advokasi ini, setidaknya ada dua pilihan
yang dapat diraih umat Islam, yaitu pertama secara material membuktikan bahwa Islam
memang rahmat bagi seluruh alam, karena dalam gerakan advokasi sasarannya bukan lagi
siapa beragama apa melainkan mereka yang tertindas oleh ketidakadilan, maka wajib untuk
dibela. Kedua, mewujudkan cita-cita kemanusiaan, yakni terbangunnya keadilan. Karena
kekuatan hukum bnergantung pada jangkauan keadilan. Dalam kaitan inilah maka menarik
jika gerakan Islam terlibat aktif dalam proses pembelaan hukum sebagaimana yang
terangkum dalam gerkan advokasi. Gerakan advokasi tidak semata memberi bantuan
hukum, melainkan mencoba melakukan perombakan tertib sosial yang lebih mendasar.
WACANA ISLAM KIRI: ARAHAN MENUJU ISLAM PROGRESIF
Berikut ini adalah perbedaan yang perlu dipahamai antara Islam kiri dengan
model Islam knservatif:
ISLAM
KONSERVATIF
ISLAM
KIRI
Orientasi pada jaminan kehidupan
yang mapan, stabil dengan
menyesuaikan spirit keagamaan
pada modernitas dan pembangunan.
Mendorong agama untuk menjadi
urusan privat dan tidak diperlukan
untuk menjawab semua masalah
sosial.
Mengadaptasikan semua perangkat
ajarannya agar sesuai dengan sistem
Orientasi pada perubahan struktur
sosial yang menindas dan menyingkap
segala bentuk kejahatan pembangunan.
Mendorong agama sebagai kekuatan
pembebas terutama bagi pemeluk yang
terancam secara sosial oleh sistem
ekonomi dan politik yang destruktif.
Mengadaptasikan semua perangkat
ajarannya untuk membongkar semua
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
18
ekonomi pasar bebas, sistem politik
yang “demokratis” dan sistem sosial
yang pluralistic.
Melihat semua akar persoalan pada
pemahaman literer dan absolut
kalangan agamawan terhadap
wahyu Tuhan.
Menempatkan Islam sama dengan
agama-agama lainnya dalam artian
sama-sama menyuruh saling
bersikap kasih sayang, toleransi dn
terbuka.
Pemuka keagamaan adalah
intelektual borjuis yang memiliki
prasyarat pengetahuan agama yang
mendalam dan kalau perlu lulusan
sekolah tinggi agama.
sistem politik, sosial, dan kebudayaan
yang mengalienasi kelompok miskin
dan sistem yang telah mendorong
adanya diskriminasi.
Melihat akar pesoalan ada pada sistem
politik dan ekonomi dunia yang
memang sejak semula tidak adil dan
berpihak pada kepentingan kaum
pemodal.
Menempatkan Islam sebagai agama
wahyu terakhir yang pertama-tama
berorientasi pada pembasmian
penindasan ekonomi dan dalam kondisi
yang dipersyaratkan memperkenankan
dipakainya kekuatan fisik demi tegaknya
keadilan.
Pemuka agamanya banyak berasal dari
kalangan miskin dan tertindas.
Islam kiri menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar bagi dirinya tk membangun gerakan yang
progresif dan mencerahkan kehidupan umat. Beberapa ayat yang sangat menunjukkan
pemihakan Islam terhadap kaum tertindas diantaranmya adalah:
PRINSIP MAKNA AYAT QUR’AN
TERKAIT
􀂪 Melawan Islam memusuhi QS 4:7; QS 8:39; QS
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
19
segala
bentuk
penindasan
dan
kesewenangwenangan.
kaum yang
mengeksploitasi
kelompok miskin.
4:148; QS 7:137; QS
9:103; QS 22:39; QS
2:190; QS 9:36; QS
2:191; QS 59:7-8; QS
89:6-14.
􀂪 Menentang
monopoli
ekonomi
dan
Kapitalisme.
Islam melarang
penimbunan kekayaan
dan tradisi konsumtif.
QS 104:6-8; QS 7:31; QS
59:7; QS 9:34; QS 2:129;
QS 2:275-278; QS 30:39;
QS 104:1-4; QS 7:31; QS
57:7; QS 51:19; QS
2:190; QS 6:142; QS
10:12,83; QS 21:9; QS
26:151; QS 51:34; QS
42:5; QS 44:31.
􀂪 Membela
kaum lemah
dan
tertindas.
Islam menyuruh
orang beriman untuk
membela kelompok
lemah serta larangan
untuk menganiaya
mereka.
QS 17:16; QS 28:5; QS
4:75; QS 62:2; QS 22:45;
QS 107:1-3; QS 2:264;
QS 42:8.
􀂪 Menegakkan
keadilan dan
prinsip
pemerataan.
Islam mengutuk
sistem hukum, sosial,
ekonomi, politik yang
tidak adil &
menempatkan
parameter ketaqwaan
pada sejauh mana
menegakkan keadilan.
Qs 7:29; QS 4:135; QS
5:8; QS 9:34; QS 55:8-9;
QS 11:84-85; QS 2:188;
QS 2:275; QS 2:278-279.
Islam secara normal mengakui kebebasan berusaha dengan lembaga kepemilikan
pribadi, sistem pemasaran dan keuntungan. Akan tetapi ia berbeda dengan Kapitalisme,
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
20
karena hak milik dalam Islam bukan seluruhnya—baik dalam esensi maupun materi—
milik pribadi. Ada sebagian harta yang menjadi hak bagi golongan masyarakat lain sebagai
manifestasi tanggung jawab sosial, yaitu golongan lemah yang membutuhkan
(mustadz’afin). Prinsip tersebut dikenal dalam Islam melalui mekanisme zakat, sedekah, dan
infaq.1 Dengan cara pandang yang demikian Islam mensyaratkan kepemilikan pribadi
tidak semata-mata digunakan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga harus berfungsi
sosial. Kepemilikan tidak hanya bergulir dalam rotasi kelompok kaya dan pemilik modal
saja, tetapi alur distribusinya juga harus merambah ke kalangan miskin dan lemah.2
Kecenderungan monopolistik dan kapitalistik tidak dibenarkan dalam Islam karena hal itu
akan berimplikasi pada perampasan hak orang-orang miskin, seperti menumpuk harta,
kikir, dan penguasaan sumber ekonomi oleh kelompok kecil masyarakat.3
Dalam Islam, terjadinya praktek penindasan merupakan tanggung jawab seluruh
komponen masyarakat, termasuk di dalamnya kelompok-kelompok yang terlibat dalam
penindasan itu. Dalam mencapai perubahan sosial, Al-Qur’an sendiri tidak
membangkitkan kesadaran kelas, tetapi kesadaran humanistik yang berdiri di atas
egalitarianisme. Oleh sebab itulah baik penindas maupun tertindas sama-sama
bertanggung jawab atas praktek-praktek sistem yang tak adil. Penindas bersalah karena
arogansi dan kekuasaannya. Sebaliknya orang yang tertindas juga menjadi bersalah jika
mereka hanya diam tidak melakukan perlawanan. Jika hal tersebut terjadi, dikhawatirkan
1 Zakat, infaq dan sedekah adalah sebagian pilar Islam yang wajib dilaksanakan bagi umat Islam. Dalam
beberapa ayat Al-Qur’an menekankan urgensinya bagi penegakan keadilan sosial. “dan dalam kekayaan
mereka terdapat bagian (hak) semestinya bagi orang-orang yang berkekurangan dan miskin”, (QS. Adz-dzariyat:19).
Kemudian dalam ayat 107, “tahkah kamu orang yang mendustakan agama?, yaitu yang menyingkirkan yatim piatu
dan tidak menyuruh manusia untuk memberi makan orang-orang berkekurangan. Celakalah orang yang shalat tetapi
tidak peduli dengan shalatnya; yaitu memamerkan kesalehan tetapi tidak memberi sedekah kepada orang miskin.”
2 Konsep ini dinyatakan dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 7, “…supaya harta itu jangan hanya beredar
diantara orang-orang kaya saja.” Dalam ayat lain juga disebutkan,”dalam harta mereka (orang-orang kaya) terdapat
hak orang miskin yang meminta-minta serta mereka yang tidak mendapat bagian.” (QS. Ad-dzariyat:19).
3 Wacana tersebut disandarkan atas Al-Qur’an surah Al-Humazah ayat 104,” Kecelakaan bagi orang yang
menumpuk harta dan kikir.” Kemudian dalam ayat lain secara lebih ekstrim juga disebutkan,”Kepada orangorang
yang menimbun emas dan perak dan tidak menggunakannya untuk kepentingan terlaksananya agama Allah,
beritahukanlah adanya siksa yang berat. Pada suatu hari (kiamat) emas dan perak mereka dipanaskan di neraka
jahannam, kemudian para pemiliknya akan diseterika dengannya pada dahi, lambung, dan pinggang mereka; seraya
dikatakan pada mereka: inilah harta yang telah kamu timbun untuk kepentinganmu itu, maka rasakanlah sekarang
(siksa) akibat dari apa yang kamu timbun itu.” (QS. At-Taubah:34-35).
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
21
status quo penindasan akan terus berjalan dan kaum tertindas akan digiring ke dalam
rekayasa para penindas.4
Kelumpuhan Islam untuk mewujudkan ajaran fundamental yang revolusioner
tersebut di atas disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pertama; arus kapitalisme modal
yang telah menciptakan tatanan dunia penuh dengan aturan dan berpihak kepada
kepentingan modal. Kedua, memudarnya kepedulian dan solidaritas umat Islam terhadap
kaum lemah.
Dalam konteks yang lebih operasional, gerakan Islam kiri hendak memfokuskan
tiga tiang utama:
1. Ilusi kemakmuran global yang dibawakan oleh sistem perdagangan internasional
perlu diawasi dan dilakukan upaya counter. Mekanisme perdagangan internasional
yang digagas oleh GATT maupun WTO hanya berakibat lacurnya asset kekayaan
negeri Muslim pada negara-negara besar.
2. Islam kiri menentang sistem hukum yang diskriminatif dan mengelabuhi rakyat
tentang arti kepastian dan keadilan hukum. Islam kiri mendesak agar semua
kejahatan manusia dipertanggungjawabkan secara transparan didepan hukum dan
diketahui publik.
Sebagai benang merahnya, Eko Prasetyo dalam buku ini tidak berarti mengajak
pembaca untuk mendikotomikan Islam kedalam sekat-sekat terpisah antara status qou dan
reformis, keonservatif dan kiri atau penggolongan lainnya. Nilai penting buku ini adalah
upaya untuk merombak tatanan doktrin Islam menjadi lebih hidup dan membumi. Bahwa
dalam wahyu Al-Quran terdapat banyak ajaran yang sangat esensial namun masih sering
dilupakan oleh ummat Islam sendiri. Bahwa bangunan Islam perlu ditegakkan di atas
segala permasalahan social kemasyarakatan. Gagasan dalam buku ini hendak meletakkan
kembali posisi Islam sebagai gerakan alternatif. Buku ini mengajak untuk melakukan
penyelaman sudut pandang islam dari sisi yang masih tak berdaya agar mampu tampil
lebih kritis, memberdayakan dan mampu menjawab tatangan zaman, sebagaimana Islam
yang dibawakan para nabi terdahulu yang selalu menempatakan diri sebagai gerakan
4 Lihat Jaluddin Rakhmat,”Perjuangan Mustadz’afin: Catatan Bagi Perlawanan Kaum Mustadz’afin”, dalam
Eko Prasetyo, Islam Kiri, opcit. Hal.320.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
22
perlawanan atas berbagai ketimpangan, kezaliman, dan kebobrokan system yang mencuat
dalam masyarakatnya.
Buku ini mencoba untuk mengkonstruksi Islam sebagai alternatif atas gurita
kapitalisme global berikut implikasinya terhadap dehumanisasi umat manusia, pelanggaran
HAM, pelecehan budaya, serta kekerasan dalam beragam wajah. Gagasan dalam buku ini
diharapkan dapat menciptakan ruang untuk refleksi bagi golongan islam yang hendak
meletakkan kembali posisi Islam sebagai gerakan alternatif.
Review buku oleh: Eko Supriyadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: