ISLAM SEBAGAI AGAMA PEMBEBASAN WANITA

Relasi gender dalam pandangan Islam memang sesuatu hal yang sangat menarik dan selalu menjadi bahan kajian dan perdebatan para cendikiawan atau pemikir Islam dari zaman cendikiawan klasik sampai cendikiawan kontemporer. Banyak sekali tanggapan terhadap eksistensi wanita dalam kapasitasnya di ruang publik baik itu tanggapan yang pro maupun tanggapan yang kontra atau tidak setuju. Permasalahan ini menjadi tambah lebih runyam tatkala kedua kubu itu menyitir dalil – dalil agama sebagai landasan tekstual argumentasinya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Islam lahir dan tumbuh berkenbang dalam kultur Arab yang misoginis dan terkenal suka membunuh anak – anak perempuan karena mereka anggap anak perempuan itu adalah kehinaan, juga menempatkan wanita sebagai warga negara nomor dua, hal ini terlihat dari masyarakat Arab waktu itu tidak mengenal konsep waris dan saksi bagi perempuan. Namun setelah turunnya Islam yang disampaikan oleh Rasulullah konsep relasi gender pun menjadi berubah, kultur Arab yang waktu itu sangat misoginis dan mendiskriminasikan wanita secara radik berubah ke arah emansifatoris, hal ini terbukti dari adanya pesta syukuran (aqiqah) tatkala anak wanita lahir, perempuan pun menjadi mempunyai hak waris dan hak saksi, dan perempuan yang mati terbunuh tiba-tiba harus juga mendapatkan bagian dari denda (diyat).

Bukan saja hal itu, banyak sekali ayat – ayat Al – Quran yang menegaskan kesetaraan gender, Q.S. al-Baqarah, 2:35 merupakan penegasan Al-Quran mengenai kesetaraan di depan Allah dan mempunyai hak yang sama sebagai penghuni surga, Q.S. al-A’raf, 7:20 sebagai pembersih nama perempuan ( Hawa ) bahwa yang terlibat dalam dosa kosmis adalah kedua – duanya, Q.S. al-Hujrat, 49:13 merupakan penolakan Al-Quran terhadap sikap diskriminatif karena dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas, yaitu sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan (khalifah), tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan warna kulit, dan Islam sejak awal menegaskan bahwa diskriminasi peran dan relasi jender adalah salahsatu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus (Q.S.al-Nisa’, 4:75).

Kemunculan Islam ternyata meningkatkan suasana kondusif dan keadaan menguntungkan bagi wanita, banyak sekali wanita – wanita dalam zaman itu yang menjadi tokoh dan pejuang besar Islam baik dari kalangan sahabat maupun dari kalangan keluarga dan istri nabi sendiri, maka munculah seorang feminis gagah berani Hindun binti ‘Uthbah, seorang istri nabi yang shaleh, pintar dan guru banyak sahabat juga sebagai pemimpin perang Siti Aisyah, tidak lupa juga istri pertama nabi seorang saudagar dan ekonom handal Siti Khadijah, serta banyak lagi wanita – wanita Islam waktu itu yang menjadi tokoh dan harum namanya karena kontribusinya serta andilnya yang begitu besar terhadap perjuangan Islam.

Seperti yang dikatakan seorang feminis kelahiran tahun 1940 di Fez, Maroko, Fetima Mernissi, dalam bukunya Women in Islam, tata ruang yang diciptakan Nabi pada awal-awal Islam, telah mengondisikan iklim demokratis yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Kalaupun ada dominasi itu hanya ada pada Nabi. Karena Nabi mempunyai otoritas wahyu dari Allah sehingga mempunyai posisi dan peran sebagai problem solver yang menjawab semua persoalan umat Islam.

Dalam Islam tidak jelas dikotomi publik dan privat. Perempuan Islam tetap menjalankan tugas reproduksinya tanpa meninggalkan kehidupan publiknya. Ini terlihat dari keterlibatan dan keaktifan isteri-isteri Nabi dan sahabat-sahabat perempuan beliau yang bisa kita baca dalam sejarah hidup Nabi.

Hal itu terjadi karena masih menurut Tetima Mernissi, sejak awal tata ruang yang diciptakan Nabi sudah mengondisikan perempuan untuk aktif dalam ruang publik. Ruang yang diciptakan Nabi yang terdiri dari mesjid, tempat tinggal Nabi dan isteri-isterinya serta sahabat-sahabat terdekatnya, telah mebentuk kesatuan. Kesederhanaan bentuk pemukiman mereka, kedekatan satu sama lain, dan kedekatan mereka dengan mesjid, memberikan dimensi demokratik dalam masyarakat muslim. Pada saat itu, mesjid menjadi pusat kegiatan politik dan keagamaan. Suara dan aspirasi kaum perempuan juga terakomodir di sini dan menjadi opini publik. Sama halnya dengan suara kaum laki-laki. Ingat misalnya kasus Ummu Salama yang memprotes Nabi dan kasus Kubaysya binti Ma’an.

Menyatunya tempat tinggal dan mesjid ini tidak menghalangi keterlibatan perempuan Islam, baik isteri-isteri Nabi atau sahabat-sahabatnya, dalam berperan baik sosial, politik dan

keagamaan. Perempuan-perempuan biasa keluar masuk mesjid untuk mendapatkan pendidikan dari Nabi. Jalinan perasaan antara perempuan dan mesjid telah menciptakan poros dalam masyarakat dan mengangkat tingkat kesadaran dan peran serta mereka dalam masyarakat. Hasil nyatanya telah dapat disaksikan pada zaman Nabi dengan munculnya banyak sahabat perempuan teladan.

Tetapi sungguh sangat disayangkan kondisi sepeti ini tidak berlangsung lama, dulu Islam sangat identik sekali dengan pembebasan perempuan tetapi kini justru Islam mempunyai image pembatasan perempuan. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Menurut Nasarudin Umar, Dosen Pasca Sarjana IAIN Jakarta, hal ini terjadi antara lain, semakin berkembangnya dunia Islam sampai kepada pusat-pusat kerajaan yang bercorak misoginis seperti Damaskus, Bagdad dan Persia. Di samping itu, unifikasi dan kodifikasi kitab-kitab hadis, tafsir, dan fikih, yang banyak dipengaruhi oleh budaya lokal, langsung atau tidak langsung mempunyai andil di dalam memberikan pembatasan hak dan gerak kaum perempuan.

Pada saat bersamaan, secara simultan berlangsung politik antropologi untuk melanggengkan tradisi patriaki yang menguntungkan kaum laki-laki. Berbagai nilai diarahkan dan digunakan untuk mempertahankan keberadaan pola relasi jender yang berakar dalam masyarakat. Karena hal tersebut berlangsung cukup lama, maka pola itu mengendap di alam bawah sadar masyarakat, seolah-olah pola relasi jender adalah kodrat (Arab: qudrah berarti ditentukan Tuhan). Bertambah kuat lagi setelah pola relasi kuasa (power relations) menjadi subsistem dalam masyarakat modern-kapitalis, yang kemudian melahirkan masyarakat new patriarchy.

Juga menurut Nong Darol Mahmada, Pengamat Masalah – Maslah Gender Dan Islam, dalam salah satu artikelnya yang berjudul Hijabisasi Perempuan dalam Ruang Publik, Puncak pembatasan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada dinasti Umayah masa Khalifah Al-Walid II (743-744 M), perempuan pertama kalinya ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Gaung keterlibatan perempuan, pada masa ini, hampir tidak terdengar. Pada akhir kekhalifahan Abbasiyah yaitu pada pertengahan abad ke-13 M, sistem harem telah tegak kokoh.

Kondisi ini melahirkan pemikir Islam yang ingin mengembalikan posisi perempuan seperti dalam zaman Nabi Saw. Gerakan ini diawali oleh Qosim Amin, salah satu murid Muhammad Abduh, dalam bukunya Tahrirul Mar’ah yang merupakan tonggak gerakan perempuan dunia Islam. Qosim mempreteli konsep hijab, poligami dan thalaq yang katanya sangat merendahkan perempuan Islam. Sekarang, banyak pemikir Islam yang menyuarakan hal itu. Bahkan beberapa pemikir perempuan secara serius menggali teks-teks suci, misalnya Fatima Mernissi di Marokko, Riffa’at Hassan di Pakistan, Amina Wadud Muhsin di Malaysia, Nawal Al-Saadawi di Mesir dan sebagainya.

Inilah salah satu fakta sejarah dan beberapa landasan tekstual mengenai kesetaraan posisi dan relasi gender menurut paradigma Islam, tetapi dalam kenyataannya memang ayat – ayat dan cerita sejarah diatas tidak terlalu laku dipasaran, mungkin karena disebabkan adanya pihak – pihak yang merasa dirugikan dan kepentingannya terhalangi apabila bukti valid ini dapat disosialisasikan secara sempurna kepada khalayak umat tanpa adanya reduksi dan distorsi sedikitpun. Akhir kata penulis mengajak kepada semuanya untuk benar – benar berjihad mengembalikan posisi wanita kembali pada posisinya semula seperti pada zaman nabi dan sesuai dengan semangat dan prinsip Islam. Huwallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: