Proses-proses Yang Mempengaruhi Terjadinya Gua

Gua : adalah setiap ruangan bawah tanah alam di bebatuan yang cukup dimasuki  manusia. (Union Internationale de Speleologie).
Gua : lubang alam yang ada di bumi. (William B. White, 1988)

Beberapa referensi yang mengulas proses-proses terjadinya gua, diantaranya adalah:

Geomorphology and Hydrology of Karst Terrains (William B. White, 1988)
Karakteristik bentuk lahan di kawasan karst adalah:
– bentukan negatip yang tertutup, dengan berbagai ukuran dan susunan
– drainase permukaan yang terputus
– gua-gua dan sistem aliran bawah permukaan
Tingkat perkembangan bentuk lahan kawasan karst, secara umum berbeda satu kawasan dengan yang lainnya. Mulut gua terbentuk secara kebetulan.
Sebagian terbentuk berhubungan dengan sumber air atau tempat keluarnya air yang juga membentuk gua. Misalnya mulut gua yang berupa swallow hole atau mulut mata air.
Sebagian mulut gua terbentuk dengan downcutting dari lembah permukaan yang memotong lorong gua.
Sebagian lain terbentuk dengan proses yang komplek: upward stopping of cave passage, sinkhole collapse, atau perpotongan vertical shaft dengan lorong gua.

Swallow hole : pengertian ini dipergunakan untuk menandai tempat dimana aliran air menghilang menuju bawah tanah
Vertical shaft : pada bentuk ideal, merupakan silinder dengan dinding vertikal merombak perlapisan melawan inklinasi perlapisan.
Collapse : runtuhan

Karst Geomorphology and Hydrology (D.C Ford & P.W. Williams,1989)

The Science Of Speleology (G.T Warwick. Geomorphology and cave)

Dome pit (page 100):
Disebabkan oleh solution yang menuju keatas, di back up oleh air lipasan banjir pada chamber, terbentuk sepanjang joint utama. (Renault, 1952 a dan b).
(Maucci, 1952, 1958) menyebutnya erosi terbalik (inverse erosion).

Karst Landform (Marjorie M. Sweeting, 1972)
Faktor-faktor yang mempengaruhi bentukan lorong gua (133):
– Bentuk kapilaritas primer
– Karakter petrologi dan kimia batugamping
– Struktur batugamping, seperti dip, joint, dan fault, dll
– Tipe dan banyaknya aliran air yang melewati lorong (phreatic atau vadose)
– Fisiografi kawasan regional
– Pengaruh perkembangan gua sebelumnya, yakni sejarah gua
– Iklim dan variasi iklim masa-masa sebelumnya
– Pengaruh deposit gua.

Cave collapse and breakdown:
– Block breakdown : Tipe runtuhan biasanya pendek dimensi untuk horisontal, cenderung vertikal, bertingkat, arah terrentang naik kearah tension dome. Runtuhnya atap atau dinding gua secara besar-besaran, ditandai dengan hasil runtuhan berbentuk blok yang persegi.
– Slab breakdown : Tipe runtuhan yang berada pada jarak horisontal yang panjang tetapi tingkat vertikal yang terbatas. Disebabkan oleh runtuhnya lapisan tunggal pada atap. Ketebalan irisan tidak beraturan tersebar sepanjang lorong gua.
– Plate breakdown : disebabkan oleh solution atau hilangnya tekanan plat tipis batugamping.
– Chip breakdown : pada kasus ini hanya satu fragmen kecil yang runtuh , satu bagian yang flat dan berbentuk serpihan pecahan.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari interpretasi peta topografi, foto udara:
– pola aliran yang terputus, baik aliran periodik maupun aliran semua musim. Bentuk : Swallow hole (hilangnya aliran sungai / air), resurgence (tempat munculnya kembali aliran air ke permukaan, bisa sungai, bisa spring (sumber air /mataair). Ciri morfologi permukaan: dari peta topografi atau foto udara terlihat aliran sungai yang terputus. Untuk swallow hole, aliran air masuk menghilang kebawah permukaan tanah melewati mulut gua. Untuk resurgence dan spring, aliran air muncul dari bawah tanah melewati mulut gua.
– scarp, escarpment. Bentuk : resurgence, spring, fosile, Ciri morfologi permukaan : adanya tebing akibat sesar.
– pothole, shaft, domepit. Dapat diidentifikasi di lapangan, foto udara. Bentuk : lobang sumuran, celah vertikal. Ciri morfologi permukaan : tidak tentu.
– closed depression (uvala, cockpit, doline/ sinkhole). Bentuk: lembah-lembah karst yang tertutup
– vegetasi lebih lebat atau dengan jenis tumbuhan yang berbeda dengan vegetasi endemis disekitarnya.
– kelelawar, burung sriti, burung walet yang menuju atau dari satu titik daerah tertentu.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari peta geologi:
– Litologi pada jenis batu gamping klastik nan klastik
– Struktur geologi yang terlihat nyata (sinklin, antiklin)
– Struktur kekar, lapisan, fault regional.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari informasi orang lain:
– Pendeskripsian mengenai apa yang disebut “gua” kepada orang yang dimintai informasi – Mengerti istilah yang dipakai penduduk sekitar (luweng, song, jumbleng, gua, goa, guha, umbul, leang, goffre, grotte, cave, al kahfi, shaft, dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: