RAMADHAN DAN SPRITUALITAS KITA

Oleh : Decky Umamur Rais *)
Akhir bulan ini umat muslim akan memasuki fase baru dalam rutinitas ibadahnya. Pada ramadhan ini umat muslim harus menunaikan kewajiban sebagian keyakinanya. Bulan ramdhan akan menjadi titik balik perjalanan ibadah umat muslim selama satu tahun menuju fitrahnya (kesucian jiwa).
Bulan ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat bagi umat muslim untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai spritualitasnya. Intropeksi diri adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merevitalisasi kemabli kualitas diri kkita. Rutinitas keseharian dalam hidup kita kadang kala membuat kualitas pribadi kita menurun drastis. Mengukur kualitas pribadi, kita bisa melihat tindakan dan perbuatan kita sehari-hari, apakah tindakan-tindakan kita itu telah bernilai ibadah.
Bagi sebagian umat muslim memahami ramadhan hanya berpengaruh pada terbentunya kesalehan ibadah semata, padahal banyak ritualitas ramadhan yang bisa membuat kita saleh secara sosial (kesalehan sosial). Ketika dua dimensi kesalehan ini kita upayakan untuk digabungkan, secara tidak langsung kita telah menata jalur hidup kita kearah yang lebih positif, bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Kegagalan kita menerjemahkan puasa adalah ketika puasa hanya dikaitkan dengan persoalan syurga dan neraka saja. Banyak pelajaran atau hikmah yang terkandung dalam puasa yang bisa kita implementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Puasa bukan hanya persolan bagaiaman kita bisa menahan lapar dan haus selama satu hari, tapi puasa lebih dari itu.
Ibadah puasa tidak hanya membicarakan, bahwa puasa itu adalah sarana peningkatan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Pada faktor itu memang benar, tapi ada faktor lain yang bisa kita sentuh, dimana nilai kualitas ibadahnya tidak kalah dengan hanya menahan lapar dan haus. Ibadah puasa bisa dijadikan sarana peningkatan kualitas ibadah sosial kita. Nilai kebajikan, kebaikan, keihlasan, keridloan dan kepedulian kita terhadap sesama jangan sampai tercerabut dari makna puasa itu sendiri. Jika nilai-nilai itu terlepas dari tindakan ibadah puasa, secara tidak langsung kita telah melakukan hal yang sia-sia. Ibadah puasa hanya diartikan sebagai syarat untuk melengkapi rukun islam yang harus kita laksanakan.
Pendefinisian puasa secara harfiah adalah perbuatan menahan lapar dan haus selama satu hari. Pernahkan kita bertanya, apakah yang akan kita peroleh dari menahan lapar dan haus? Pengaruh apa yang bisa diberikan oleh puasa pada fisik dan jiwa kita? Pertanyaan ini harus sering kita lontarkan dalam diri kita, agar kita bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan dalam puasa. Bukan tidak mungkin kita bisa melogikan atau meng-ilmiahkan esensi puasa. Puasa bukanlah sesuatu yang abstrak, puasa itu adalah perbuatan yang kongkrit dan erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari.
Ibadah puasa tahun ini mungkin agak sedikit berbeda dibanding puasa tahun kemarin, puasa kali ini sedikit lebih berat. Kenapa lebih berat? Pada tahun ini terjadi kenaikan BBM, kondisi ini secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada pelaksanaan ibadah puasa kita. Bagaiamana tidak? barang kebutuhan pokok untuk menjalankan ibadah puasa ikut terkena ekses kenaikan BBM, satu minggu menjelang bulan ramadhan fharga kebutuhan pokok mulai naik.
Dengan kondisi seperti ini, ibadah puasa tahun ini benar-benar membtuhkan perjuangana berat. Berat secara psikologis karena kita harus melaksanakan kewajiban juga berat dalam anggaran karena biaya kebutuhan untuk puasa ikut naik apalagi untuk ekonomi golongan menengah kebawah. Belum lagi kalau kita umat muslim memikirkan nanti diahir bulan puasa tepatnya menjelang hari raya idul fitri tentu ini akan menjadi persoalan tersendiri.
Amat bijaksana jika sekiranya tantangan ibadah bulan puasa yang berat ini dijadikan cara untuk menyadarkan moral dan spritual kita menjadi lebih baik. menata diri menjadi lebih sadar, lebih telaten, lebih perhatian, lebih ulet, lebih tekun, dan lenih peduli terhadap sesama. Melihat kondisi ini kita harus berpikir lebih fiosofis lagi untuk mtuk menjadi bijak dan lebih realistis memahami konteks puasa ini.
Lapar dan haus akan memberikan kita pelajaran, bagaimana susahnya menjalani hidup sebagai orang yang suasah (kurang mampu). Kesucucian bulan ramadhan ini tidak hanya bulannya saja yang suci tapi spritualitas kitapun harus suci. Adil rasanya jika kita umat muslim pada bulan ini bisa menahan keinginan untuk membeli barang-barang mewah, mengekang hawa dan nafsu agar tidak konsumtif. Kekanglah sifat pamer dan hdup mewah, santuni dan bantulah saudara-saudara kita yang masih membutuhkan. Tindakan-tindakan itu akan mendorong kita lebih berempati dan bersaimpati pada sesama muslim yang kehidupan ekonominya jauh kurang beruntung dibanding kita.
`spirit untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, kita latih, kita asah kepekaan hati nurani kita selama ramadahan ini. Ramadhan jaggan hanya dijadikan seremonial belaka, tapi jadikanlah ramadhan ini sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan kepada sesama manusia. Perkuat jalinan silaurrahmi santuni orang-orang yang tidak mampi, niscaya bulan ramadan akan membentuk insan yang berkarakter intelelektualis, bernurani, amanah serta mengerti penderitan orang-orang lain.
Dengan demikian diharapkan nilai moral dan spiritual ibadah puasa kita akan menjadikan kita orang-orang yang saleh, saleh secara ibadah juga saleh secara sosial. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga Allah SWT selalu me-rahmati dan me-ridloi kita. amin.

*) Penulis adalah Mahasiswa Administrasi Negara Fisip Unej juga Ketua PPD HMI Cabang Jember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: