Menuju Insan saleh

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Al baqarah, 2: 184

Perintah berpuasa pada Ramadhan bertujuan menjadikan manusia menjadi orang bertakwa (QS. 2: 183). Ketakwaan seseorang tidak akan Allah sia-siakan demikian saja. Allah akan membalas orang bertakwa dengan surga dan mereka akan kekal di dalamnya (Ali Imran, 3: 198). Orang yang berhasil mengendalikan nafsunya selama menjalankan ibadah puasa niscaya termasuk orang yang menang. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (An Nur, 24: 52).

Takwa bukan sekedar menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dalam dari itu, takwa mengajarkan solidaritas kemanusiaan dan penegakkan keadilan. Orang bertakwa senantiasa menjadikan manusia lainnya sebagai saudaranya. Orang bertakwa tidak akan menyakiti manusia lainnya. Bagi mereka dalih agama tidak menjadikan ia mempunyai kekuatan alasan untuk membunuh manusia lainnya.

Islam merupakan agama keselamatan. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh orang yang tidak bersalah, bahkan bila ia kafir sekalipun. Islam memiliki pedoman siapa-siapa yang wajib diperangi dan siapa yang tidak. Tidak semua orang kafir boleh dibunuh. Bom yang meledak di Jimbaran dan Kuta, Bali, 1 Oktober 2005 merupakan tindakan pengecut dari segelintir orang. Para pembom hanya berani membunuh orang-orang tak berdaya. Islam mengutuk secara keras pemboman ini. Apalagi menjelang Ramadhan secara tidak langsung pembom ingin mengusik ketenangan beribadah umat Islam di Indonesia. Harmonitas antarumat beragama yang selama ini mulai kembali menguat dipantik untuk kembali resah. Sebuah tantangan baru di Ramadhan sekarang.

Ramadhan bagi sebagian orang merupakan saat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tekun dengan ritualitas keagamaan individual. Tadarus, tilawah, shalat tarawih, tahajud, menghadiri pengajian-pengajian. Semenjak dini hari ketika sahur hingga menjelang tidur dimaksimalkan meraih harapan menjadi orang bertakwa.

Kesalehan individual bukan satu-satunya jalan meraih derajat takwa. Kesalehan individual memang perlu tetapi ia pun memerlukan kesalehan sosial. Allah menyebut orang yang tekun beribadah individual sementara menafikan ibadah sosial sebagai pendusta agama. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Al Maauun, 107: 1-7).

Demikian tegasnya Allah menggolongkan orang yang sering shalat tetapi enggan menolong sesama. Kepekaan diri untuk cerdas memahami kesusahan orang lain harus terpatri dalam diri setiap muslim. Islam sebagai agama pembebasan mengajarkan kepada manusia untuk membebaskan orang tertindas dari ketertindasannya. Ketertindasan kemiskinan, ketertindasan atas dominasi orang lain, ketertindasan atas system yang menghegemoni diri, dll.

Seorang muslim belum disebut muslim sejati jika ia belum membebaskan manusia lain dari ketertindasannya. Tak peduli manusia lainnya itu beragama lain, berjenis kelamin berbeda, bukan dari suku bangsa yang sama, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Alangkah naifnya jika seorang muslim membenci keragaman. Allah sendiri berfirman, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat, 49: 13).

Apalagi di bulan suci ini merupakan saat yang tepat untuk meraih ketakwaan dengan jalan kesalehan sosial. Apalagi dengan pencabutan subsidi BBM bagi rakyat miskin pada 1 Oktober lalu yang melahirkan berjuta orang miskin baru. Orang-orang miskin merupakan ladang dakwah bagi setiap muslim untuk menunjukkan dirinya seorang takwa.

Menyantuni orang miskin tidak saja dengan memberi makan secara langsung. Bisa juga dengan membekali mereka dengan hasta karya sebagai modal bekerja. Lebih baik memberi kail daripada ikan. Kail akan berguna hingga lama, sedangkan ikan akan habis untuk waktu yang singkat. Program pemerintah memberikan kompensasi BBM sebesar seratus ribu rupiah hanya akan meninabobokan saja. Meski di sisi lain uang sebesar itu tidak mencukupi kebutuhan harian orang miskin.

Makna menahan untuk tidak makan, minum di siang hari sebagai pengejawantahan kesalehan sosial. Kita dapat merasakan bagaimana orang-orang miskin tidak makan dan tidak minum karena tidak memiliki makanan dan minuman. Sementara itu tidak sedikit orang yang sakit perutnya karena kekenyangan menyantap segala makanan. Mereka tidak merasa berdosa ketika makan dengan sekenaknya sementara tetangganya si papa menjerit kelaparan.

Ramadhan pun mendidik kita laiknya anak yatim. Anak yatim kehilangan kedua orangtuanya. Orangtua disimbolkan sebagai pelindung, pengayom, pendidik, dan orang yang siap mati untuk kehidupan anaknya. Tidak sedikit sekarang ini orang yang kehilangan pelindung dan pengayom. Bukan kehilangan tapi dihilangkan. Pelindung mereka dihilangkan, pengayom mereka ditenggelamkan. Mereka sebatang kara tiada tempat bergantung. Hanya Allah tempat mereka mengadu.

Ramadhan mendidik kita untuk senantiasa menghargai orang lain. Orang yang tidak berpuasa sudah sewajibnya menghormati yang berpuasa. Demikian pula sebaliknya, jangan semata karena mayoritas umat berpuasa maka semua orang dipaksa puasa. Tetapi biarkanlah mereka tidak berpuasa.

Dibalik kekhusuan ibadah individual ada ritual sosial yang bisa dimaksimalkan untuk menjadi orang bertakwa. Kesalehan sosial hendaknya dibina di bulan penuh ampunan dan berkah. Ramadhan, kawah candradimuka bagi kita untuk mengasah kepekaan sosial. Ramadhan mengajarkan kita untuk bijak menyikapi kehidupan, hanif menghadapi kenyataan hidup yang tidak selamanya sesuai dengan keinginan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: