Archive for September, 2008

Menuju Kesucian Jiwa

Kehidupan senantiasa diwarnai dengan cobaan. Orang yang memandang dengan mata hati yang jernih dan bimbingan cahaya al-Qur’an akan bisa menyaksikan betapa hebat ujian dan cobaan yang datang dan pergi silih berganti. Fitnah datang bertubi-tubi. Sehingga hal itu membuat sebagian orang terhempas oleh ombak fitnah yang dia alami. Namun, di sisi lain ada pula orang yang tetap tegar menghadapi terpaan gelombang fitnah ini dengan taufik dari Allah ta’ala kepada dirinya. Inilah sunnatullah di jagad raya yang akan memisahkan barisan hamba-hamba yang berbahagia dengan hamba-hamba yang binasa. Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang justru mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10)

Allah lah yang telah menciptakan jiwa dengan segenap tabiat dan perangainya. Dan Allah pula yang mengilhamkan kepadanya potensi untuk bertakwa dan potensi untuk berbuat dosa. Maka barang siapa yang memilih ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjunjung tinggi hal itu di atas segala-galanya maka sungguh dia telah menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang rendah dan tercela. Dan orang yang menyucikan jiwanya itu berarti akan merasakan kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhiratnya, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan ini. Sebaliknya, barang siapa yang justru memperturutkan kemauan hawa nafsunya tanpa mematuhi rambu-rambu syariat yang ditetapkan oleh Allah yang Maha bijaksana, maka sesungguhnya dia telah mengotori jiwanya. Dan jelas sudah bagi kita bahwa orang yang mengotori jiwanya akan merasakan kerugian dan kesempitan hidup di dunia maupun akhiratnya.

Saudaraku, perjalanan hidup kita di dunia adalah singkat. Tidakkah kita ingat belasan atau beberapa puluh tahun yang silam kita masih kanak-kanak. Ketika itu kita masih asyik dengan permainan bersama teman sepergaulan. Ketika itu kita masih belum mengenal makna syahadat dengan benar. Ketika itu kita masih belum mengenal hakikat tauhid yang sesungguhnya. Yang kita mengerti ketika itu bahwa tauhid adalah mengakui bahwa Allah itu esa, titik. Demikian pula kita belum mengenal dakwah salaf dan para ulama yang telah menghabiskan umurnya, mencurahkan pikiran dan tenaganya demi memperjuangkan dakwah yang mulia ini. Kemudian setelah kita dewasa Allah berkenan mengaruniakan hidayah kepada kita untuk belajar tauhid dan mengenal seluk beluknya. Dan Allah juga membukakan kepada kita berbagai referensi ilmiah yang telah ditulis oleh para ulama dari masa ke masa. Akankah kita sia-siakan hidayah ini dengan menenggelamkan diri dalam kemaksiatan dan kerusakan akhlak? Akankah kita wujudkan rasa syukur ini dengan melakukan perbuatan yang dimurkai oleh-Nya?

Saudaraku, semua manusia pasti pernah berbuat salah. Akan tetapi yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah kita sudah bertaubat dengan ikhlas dan sungguh-sungguh dari setiap dosa dan kesalahan kita. Itulah pertanyaan besar yang akan sangat sulit dijawab oleh orang yang sama sekali tidak mau mempedulikan kondisi hatinya. Adapun orang yang mendapatkan taufik dari Allah untuk berpikir dan merenungkan setiap aktivitas yang dia kerjakan, maka dia akan bisa merasakan bahwa sesungguhnya menundukkan hawa nafsu dan mewujudkan taubat yang sejati tidaklah seringan mengucapkannya dengan lisan. Terlebih lagi pada masa seperti sekarang ini, ketika berbagai fitnah laksana gelombang lautan yang datang menghempas silih berganti.

Oleh sebab itu, melalui tulisan yang singkat ini ada baiknya kita sedikit mengupas kiat agar seorang hamba bisa memiliki jiwa yang tenang alias nafsul muthma’innah, bukan nafsu yang senantiasa menyesali diri (nafsul lawwamah) ataupun nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (nafsu ammarah bi suu’).

Pertama: Senantiasa Berzikir/Mengingat Allah

Allah ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang hatinya merasa tentram karena mengingat Allah. Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” (QS. Ar Ra’d: 28)

Seorang hamba akan memiliki jiwa yang tenang tatkala ia selalu berusaha mengingat Allah, baik dalam keadaan bersama orang ataupun sendiri, dalam posisi duduk, berdiri, ataupun berbaring. Allah ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“Orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Allah ta’ala memerintahkan pula agar kita selalu berzikir kepada-Nya dan tidak lalai dari mengingat-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Rabbmu di dalam hatimu dengan penuh perendahan diri, merasa takut, dan tanpa mengeraskan suara di waktu pagi ataupun di waktu sore. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf : 205).

Dengan berzikir kepada Allah maka hati akan hidup. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lalu apakah yang akan terjadi pada seekor ikan jika dipisahkan dari air?” (lihat Al Wabil Ash Shayyib).

Kedua: Merasa Takut Akan Makar Allah

Seorang hamba yang selalu mengingat Allah akankah ia terus menerus berbuat maksiat tanpa menyimpan perasaan menyesal dan tekad kuat untuk tidak mengulangi kemaksiatannya? Akankah dia merasa aman dari makar Allah? Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مُشْفِق وَجِل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

“Orang mukmin mengerjakan berbagai ketaatan dalam keadaan takut, hati yang bergetar, dan penuh kekhawatiran. Adapun orang yang fajir (pendosa) melakukan berbagai kemaksiatan dalam keadaan merasa aman.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Al A’raaf ayat 99)

Allah ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raaf : 99).

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang dosa-dosa besar? Maka beliau menjawab, “Mempersekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (HR. Al Bazzar dalam Musnad [106], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ [4479]).

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizahullah menjelaskan, “Perasaan aman dari makar Allah itu berasal dari ketiadaan rasa takut dan meninggalkan ibadah khauf. Ibadah khauf adalah ibadah hati. Rasa takut ini, yaitu khauf ibadah, muncul karena pengagungan terhadap Allah jalla jalaluhu. Apabila rasa takut ini telah bersemayam dalam hati seorang hamba, maka hamba itu akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang diridhai-Nya serta menjauhkan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Dia akan mengagungkan Allah jalla wa ‘ala dengan melakukan hal-hal yang akan mendekatkan diri kepada-Nya dalam bentuk rasa takut di dalam dirinya…” (Kifayatul Mustazid bi Syarhi Kitab At Tauhid, hal. 188).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba padahal dia sedang bergelimang dengan kemaksiatan, sesungguhnya itulah sebenarnya istidraj.” (HR. Ahmad, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim)

Isma’il bin Rafi’ mengatakan, “Termasuk merasa aman dari makar Allah adalah apabila seorang hamba terus menerus melakukan perbuatan dosa dan dia berangan-angan untuk mendapatkan ampunan dari Allah.” (lihat Fathul Majid, hal. 347).

Ketiga: Menghadirkan Perasaan Selalu Diawasi Allah

Allah ta’ala berfirman,

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ () وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“Allah yang melihat kalian ketika berdiri untuk sholat serta menyaksikan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy Syu’ara: 218-219)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4)

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Allah, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya baik yang ada di bumi ataupun yang ada di langit.” (QS. Ali ‘Imran: 5).

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al Fajr: 14)

Allah ta’ala juga berfirman,

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui pandangan mata khianat serta apa yang tersembunyi di dalam dada.” (QS. Ghafir : 19).

Keempat: Mencintai Allah Dengan Murni

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya kecintaan yang paling berguna secara mutlak, cinta yang paling wajib, cinta paling tinggi dan paling mulia adalah mencintai sesuatu yang menjadikan hati tunduk mencintai-Nya; yaitu sesuatu yang menciptakan seluruh makhluk demi beribadah kepada-Nya. Dengan dasar cinta inilah langit dan bumi tegak. Di atas tujuan inilah seluruh makhluk diciptakan. Inilah rahasia kalimat syahadat la ilaha illallah. Karena makna ilah adalah sesuatu yang menjadi dipuja oleh hati dengan rasa cinta, pemuliaan, pengagungan, perendahan diri dan ketundukan. Sedangkan ketundukan dan peribadatan tidak boleh ditujukan kecuali kepada-Nya semata. Hakikat ibadah itu adalah kesempurnaan rasa cinta yang diiringi dengan ketundukan serta perendahan diri yang sempurna. Kesyirikan dalam hal ibadah jenis ini merupakan tindakan zalim yang paling zalim yang tidak akan diberikan ampun oleh Allah. Allah ta’ala dicintai karena kemuliaan diri-Nya sendiri yang sempurna dari seluruh sisi. Adapun selain Allah, maka ia dicintai apabila bersesuaian dengan kecintaan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan, “Kewajiban untuk mencintai Allah Yang Maha Suci ditunjukkan oleh seluruh kitab yang diturunkan, dibuktikan pula oleh dakwah semua Rasul-Nya dan juga fitrah yang telah dikaruniakan Allah kepada diri hamba-hamba-Nya, selaras dengan akal sehat yang diberikan kepada mereka, sesuai dengan hikmah penganugerahan nikmat kepada mereka. Karena sesungguhnya hati-hati manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang telah menganugerahkan kenikmatan dan berbuat baik kepadanya. Lantas bagaimana lagi rasa cinta terhadap sosok yang menjadi sumber segala kebaikan yang ada ? Segala macam nikmat yang ada pada makhluk-Nya maka itu semua berasal dari Allah ta’ala yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan nikmat apapun yang ada pada kalian maka semuanya berasal dari Allah. Kemudian apabila kalian tertimpa musibah maka kepada-Nya lah kalian memulangkan urusan.” (QS. An-Nahl: 53)

Nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat maha tinggi yang diperkenalkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyingkap jati diri-Nya serta pengaruh-pengaruh yang timbul dari berbagai ciptaan-Nya maka itu semua merupakan bagian dari kesempurnaan, puncak kemuliaan dan keagungan-Nya.” (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 256)

Syaikhul Islam berkata, “…sesungguhnya apabila hati seseorang telah bisa merasakan manisnya penghambaan diri kepada Allah dan lezatnya mencintai-Nya maka tidak akan ada sesuatu yang lebih disukainya daripada hal itu sampai-sampai dia pun lebih mengedepankan cintanya kepada Allah di atas apa saja. Dengan sebab itulah orang-orang yang benar-benar ikhlas beramal karena Allah bisa terbebas dari perbuatan jelek dan keji, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Demikianlah, Kami palingkan darinya (Nabi Yusuf) perbuatan yang jelek dan keji. Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba Kami yang terpilih (ikhlas).” (QS. Yusuf: 24)

Kemudian beliau melanjutkan, “Karena sesungguhnya orang yang mukhlis lillaah bisa merasakan manisnya penghambaan dirinya kepada Allah sehingga bisa membentengi dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. Demikian pula, dia telah merasakan manisnya cinta kepada Allah sehingga mampu membentenginya dari kecintaan kepada selain-Nya. Hal itu dikarenakan hati yang sehat dan selamat tidak akan bisa merasakan sesuatu yang lebih lezat, lebih menyenangkan, lebih menggembirakan dan lebih nikmat daripada manisnya iman yang menyimpan sikap penghambaan diri, kecintaan dan ketaatan menjalankan agama hanya kepada Allah. Dan itu semua menuntut ketertarikan hati yang begitu dalam kepada Allah. Sehingga hatinya akan menjadi senantiasa kembali taat dan mengingat Allah, merasa takut hukuman-Nya, berharap dan cemas karena-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“Yaitu barang siapa yang merasa takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan dia tidak melihat-Nya dan menghadap Allah dengan hati yang kembali taat.” (QS. Qaaf: 33)

Karena seorang pencinta tentu akan merasa khawatir apa yang dicarinya menjadi sirna atau apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Oleh sebab itu tidaklah seseorang menjadi hamba Allah yang sejati kecuali dirinya berada dalam keadaan takut serta berharap-harap. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Sesembahan-sesembahan yang diseru selain Allah itu adalah justru beramal demi mencari kedekatan diri kepada Allah siapakah diantara mereka yang bisa menjadi paling dekat kepada-Nya, mereka mengharap rahmat-Nya dan khawatir tertimpa azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu harus ditakuti dan diwaspadai.” (QS. Al-Israa’: 57) …” (Al-’Ubudiyah, hal. 108).

Kelima : Menghayati Keagungan Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah

Ibnul Qayyim berkata, “Kelezatan sesuatu mengikuti rasa cinta terhadapnya. Kelezatan itu akan semakin menguat seiring dengan menguatnya rasa cinta dan akan melemah pula sering dengan melemahnya rasa cinta. Setiap kali keinginan dan kerinduan kepada sosok yang dicintai semakin menguat maka kelezatan yang dirasakan ketika menemuinya juga akan terasa semakin sempurna. Cinta dan kerinduannya kepada Allah itu tergantung pada ma’rifah dan ilmu yang dimilikinya. Setiap kali ilmunya tentang Allah bertambah sempurna maka kecintaan kepada-Nya pun semakin bertambah sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di akhirat dan kelezatan yang tiada tara itu berporos pada ilmu dan kecintaan maka barang siapa yang lebih dalam keimanan dan pengetahuannya kepada Allah, kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta lebih dalam mengenal agama-Nya maka dia akan semakin mencintai Allah. Demikian juga kelezatan yang dirasakannya ketika bertemu, bercengkerama dengan-Nya, memandang wajah-Nya serta mendengarkan ucapan-Nya pun akan semakin bertambah sempurna berbanding lurus dengan ilmu dan kecintaannya kepada Allah. Dan segala macam kelezatan, kenikmatan, kegembiraan, kesenangan yang ada di dunia ini apabila dibandingkan dengan hal itu maka ia laksana setetes embun di tengah-tengah samudra. Maka bagaimana mungkin orang yang masih memiliki akal lebih mengutamakan suatu kelezatan yang sedikit dan amat terbatas bahkan tercampuri dengan berbagai dampak yang menyakitkan di atas kelezatan nan agung dan kekal abadi ? Tingkat kesempurnaan seorang hamba tergantung pada dua kekuatan ini : ilmu dan kecintaan. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah. Cinta tertinggi adalah cinta kepada-Nya. Sedangkan sempurnanya kelezatan yang akan dirasakan olehnya bergantung pada kuat-lemahnya dua hal itu, wallaahul musta’aan.” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 52).

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang memiliki nafsul muthma’innah. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘al aalihi wa shahibihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Leave a Comment

Ramadhan Bulan Kemenangan

DR. Muhammad Mahdi Akif

Bismillah,

segala puji Bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya…

Bulan Ramadhan dalam sejarahnya mengikat kita tentang peristiwa kemenangan-kemenangan besar yang menjadi titik awal perubahan dan karakter yang istimewa; bukan hanya bagi sejarah kaum muslimin saja, namun dalam sejarah umat manusia dan dunia, sejarah yang tidak datang tiba-tiba, namun berulang kali sebagai wahana motivasi berfikir, merenung dan belajar.

Tidak asing bagi kita bahwa puasa merupakan jihad, medan pertama adalah jiwa, jika mampu menguasainya maka terhadap orang lain akan lebih mampu, jika mampu memenangkannya maka terhadap musuh akan lebih mudah dan lebih gampang memenangkannya…puasa merupakan jihad terhadap jiwa yang melatih hingga ketingkat kepemimpinan, kokoh terhadap daya tarik bumi dan syahwat yang mampu menghinakan pemiliknya dan meruntuhkan mereka, mengotori kesucian ruh mereka dan menutup dirinya dari derajat menuju Tuhan yang Maha Tinggi.

Tidaklah asing bagi mereka yang sibuk dengan kesucian jiwa dan ruh dan mampu menguasainya dapat menerima kelemahan dan rela pada kehinaan, padahal disisi mereka dunia adalah kecil sementara akhirat sangatlah agung, seakan surga menghiasi jiwanya dan berusaha melangkah menuju arahnya? Allah SWT telah membimbing mereka dalam Qur’an-Nya, Allah berifrman: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (An-Nisa: 97)… dengan persiapan jiwa ini maka orang yang berpuasa sibuk dengan perang mereka, kemenangan tentunya berpihak pada mereka berjalan bersama kendaraan mereka.

Perang Badr al-Kubra

Pada bulan Ramadhan tahun ke 2 H terjadi perang Badr al-kubra, setelah mendapat izin dari Allah atas orang-orang dzalim yang telah mengusir mereka dan merampas harta mereka untuk membalas atas kedzaliman mereka. Allah berfirman: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al-Hajj: 39-41)

Perang badr merupakan rincian sejarah kaum muslimin dan pembentuk daulah yang baru…Allah SWT menyebutnya dengan hari Al-furqan yang mampu membedakan antara yang hak dan yang bathil? “…Di hari Furqaan yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas gala sesuatu. (Al-Anfaal: 41) bagaimana jadinya, sekiranya kaum muslimin pada hari itu kalah? Akankah daulah mereka (islam) dapat tegak? Betapa banyak dari umat manusia yang mengalami kerugian jika pada hari itu daulah islam hancur, tidak ada lagi bendera kebenaran?? Sungguh pada hari itu Rasulullah saw berdiri menghadap Allah sambil berdoa dengan sangat memelas dan memperbanyak do’a: “Ya Allah jika Engkau hancurkan kelomok ini maka tidak ada lagi yang menyembah di bumi ini..” adapun para sahabat yang bernadzar mengorbankan jiwa mereka dan menimbang neraca keadilan sehingga ada diantara mereka yang berkata kepada rasulullah saw: “Demi –Allah- yang telah mengutusmu dengan hak, jika dibentangkan dihadapan kami lautan, lalu engkau menyebranginya maka kami akan ikut menyebranginya bersama engkau, dan tidak ada seorangpun diantara kami yang membelot..”. mereka berjumlah 300 dan beberapa orang tidak memiliki apa-apa kecuali 2 ekor kuda berhadapan dengan jumlah tiga kali lipat, nabi saw mensifati mereka dalam doanya: “Ya Allah mereka adalah pejalan kaki maka berikanlah kepada mereka kendaraan, dalam keadaan miskin namun berikanlah kekayaan, dan dalam keadaan lapar berikanlah kepada mereka makanan”. Namun mereka tidak merasa kalah dengan jumlah yang sedikit dan perangkat yang terbatas bahkan sangat bersemangat dalam meraih kemenangan akan kebenaran dengan penuh keikhlasan, dan ideolgi yang membangkitkan…maka tidak asing jika kemenangan mereka merupakan kemuliaan dari kelemahan mereka di muka bumi ini, sehingga dimasa depan mendapatkan yang terbaik untuk dunia mereka, harga diri bagi para duat kebenaran dan berusaha mencapai jalan mereka walaupun harus menghadapi kekuatan jahat dan melemparkan mereka dalam satu panah…

Penaklukan Andalusia

Pada bulan Ramadhan tahun 92 H merupakan awal kemenangan kaum muslimin dan penaklukan Andalus, dipimpin oleh panglima gagah berani Thariq bin Ziyad yang baru masuk Islam beberapa tahun dan menjadikan diri -tidak ada beda antara anak-anaknya dengan satu jenis atau fanatic – salah seorang pemimpin terkemuka dalam sejarah.

Ketika Thariq dan pasukannya berhasil menginjakkan kakinya di bumi eropa mereka mulai mencetak sejarah baru terhadap dunia, Eropa mengakui Islam dan kebudayaannya yang memindahkannya dari keterbelakangan dan kejumudan menuju dunia yang luas dari kemajuan dan cahaya…sejarawan Eropa Gustave Lopon berkata: “ Jika kita kembali pada abad ke 17 M maka akan kita dapatkan bahwa kebudayaan Islam di Spanyol menakjubkan sekali, bahwa pusat kebudayaan eropa saat itu sedang mandek yang diredam oleh para penguasa yang jahat yang hanya mementingkan diri dan bangga dengan kemewahan namun tidak mau membaca…sehingga kejumudan terus menimpa Eropa selama beberapa tahun tanpa mereka rasakan, wajah eropa tidak tampak memiliki kecendrungan pada ilmu kecuali pada abad ke 11 dan 12 M; yang mana hal tersebut tampak ditengah mereka berkeinginan menghilangkan kejahilan yang menimpa mereka, sehingga mereka mengalihkan wajah mereka menuju arab – kaum muslimin yang merupakan pemimpin mereka-“.

Salah seorang pemimpin Andalusia abad ke 4 H atau 10 M, yaitu Ibrahim bin Ya’qub At-Thurtusyi, seorang warga Jaliqiyah di Utara Spanyol menjadi jauh dari hukum kaum muslimin, beliau berkata bahwa mereka: “Warga yang jauh dan merendahkan akhlak, tidak mencuci baju mereka sejak mereka memakainya hingga terlepas dari mereka, mereka menganggap bahwa kotor yang menempel dari keringat mereka memberikan kenikmatan pada jasab mereka dan memberikan kebaikan bagi badan mereka!!”

Begitulah kondisi mereka disaat kaum muslimin berada dipuncak ketinggian kebudayaan di Andalusia, sehingga mengarahkan anak-anak mereka dari beberapa negeri Eropa untuk menjadi pelajar dan menimba ilmu dari kaum muslimin kemudian kembali kepada mereka menjadi duta kebudayaan dan membangun kemuliaan…semua ini didapat pada lembaran-lembaran pada para pendahulu yang berpuasa yang mampu menaklukkan Andalusia dan menaklukkan dunia menuju ufuk fajar baru.

Perang Ain Jalut

Pada bulan Ramadahan tahun 658 H terjadi perang Ain Jalut; kaum muslimin di Mesir dan Syam berhasil mengalahkan kerajaan Mongolia yang selalu melakukan kerusakan dan menyebarkan kematian di daerah Asia Tangah dan Asia Timur, melakukan pembantaian yang mengerikan pada setiap penduduknya, dan bahkan sengaja menggunakan kendaraan kuda mereka untuk menginjak-injak ratusan ribu mayat manusia dari kaum muslimin, sehingga sungai Dahlah penuh oleh buku-buku yang membawa kebangkitan dan meninggikan kebudayaan dunia…bahkan karena penuhnya buku-buku mengakibatkan air sungai berubah menjadi kehitam-hitaman…di Baghdad mereka membunuh khalifah Abbasiyah yang terakhir, membantai jutaan mansuai hanya dalam beberapa hari… ditambah dengan banyak korban yang terbunuh tanpa belas kasih sayang dalam penaklukkan mereka yang hitam, mereka juga membunuh di “Moro” sebanyak 700 ribu jiwa… dan sebagaimana cobaan itu melanda negeri Islam hingga meluas ke daratan timur Eropa dan mengancam seluruh penduduk dunia..padahal kejayaan kaum muslimin adalah untuk mereka dan kemenangan umat Islam atas mereka adalah menyelamatkan manusia seluruhnya dan untuk kebudayaan masnusia secara keseluruhan; dimana saja mereka berada.

Tentunya qiyadah kaum muslimin dan pemimpin mereka al-mudzaffar Qutz menyadari bahwa mereka menorehkan sejarah yang baik baginya setelahnya, dan umat bergotong royong dibelakang para pemimpin menggerakkan para ulama besar yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang rabbani Al-‘Iz bin Abdussalam, mereka menghidupkan nilai-nilai jihad dan arti dari menggapai syuhada, mengingatkan akan akarnya yang menjadi pilihan Allah SWT .. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imron: 110) dan firman Allah: “Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (Al-Baqoroh: 143) .. ketika kondisi semakin kritis dan genting dalam sejarah umat dan alam, dengan gagah sang panglima Qutz melangkah dan sambil menunggang kuda beliau berteriak: “Wa Islamaah”, mengharap syahadah. Maka ditorehkanlah baginya kehidupan dan bagi umatnya dan nilai-nilai kemajuan dan pembangunan, bukan untuk kejumudan dan kehancuran.

Selanjutnya:

Demikianlah tiga contoh dari kemenangan-kemenangan besar dalam bulan Ramadhan, yang diraih oleh orang yang berpuasa, dicetak oleh para pemilik ruh (jiwa) yang suci dan darah yang bersih, menghadirkan untuk manusia dan umat sesuatu yang terbaik, menjaga kemurnian hadlarah dan prestasi-prestasi terbaik, sehingga mereka dapat berpindah kedepan dengan langkah yang lebih maju dan derajat yang paling tinggi.

Bahwa Ramadhan merupakan bulan Quran dan puasa memberikan kita dari sisi lain ketika kita melihat para pemilik karunia yang tiada taranya, bukan hanya atas kaum muslimin saja namun juga kepada alam seluruhnya… bahkan kepada manusia dimana saja mereka berada… apakah umat islam sekarang menyadari kebaikan-kebaikan yang ada di tangan mereka dan kemuliaan yang ada dalam sejarah mereka? Tidaklah mungkin umat manusia yang bingung dapat menghadirkan petunjuk dan arahan?? Apakah mereka menyadari akan keterbelakangan mereka dari peran yang diinginkan Islam terhadap mereka sehingga kerugian yang besar membayar harga yang besar oleh mereka dan selain mereka, mereka melebarkan peluang untuk kekuatan penghancur dan jahat yang menjadikan kehidupan lebih banyak kesengsaraan dan kesedihan, menjadikan manusia berada pada keburukan dan rendah dalam kehidupan tanpa petunjuk, tidak kebahagiaan kecuali hanya kecelakaan di dalam akhirat, dan tidak mampu meninggikan bangunannya kecuali hanya berada direruntuhan mimpi orang yang hina dan rendahan??

Dan hanya kepada Allah kita berharap menjadikan bulan kita ini sebagai proses kebangkitan umat untuk memainkan perannya yang dibebankan dengannya dalam memakmurkan dunia dan memuliakan manusia serta membahagiakan alam… “…dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya:. (Yusuf: 21)

Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya… dan akhir doa kami bahwa segala puji hanya mulik Allah Tuhan semesta alam.

Leave a Comment

14 Alasan Rindukan Ramdhan

Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah.
Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah
Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah
pemilik kehidupan ini.

“..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2)
“..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …”(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-A’raaf: 35)

2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan.Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”

3. Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
“Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu. “(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim) Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, “Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR Bukhari)

7. Do’a dikabulkan
“Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia berdo’a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ” (QS. al-Baqarah: 186)
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. “

Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya?

Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. Al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu. Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, “Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh malam terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa
mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang.”

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/ kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, “Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat.” Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyan
“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR.
Bukhari)

Minum air telaganya Rasulullah saw :
“Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

12. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu
dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, “Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi! ” (HR. Bukhari)

13. Qaulan Tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

14. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.
Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

Leave a Comment

Membangun Jiwa Kebajikan dengan Puasa Ramadhan

oleh Adi J. Mustafa

Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dikatakan bahwa puasa adalah perisai (junnah). Di antara.penafsirannya adalah bahwa puasa menjadi penghalang antara.pelakunya dengan api neraka dan penghalang dengan perbuatan ma’shiyat atau melanggar ketaatan kepada Allah. Ketaqwaan yang menjadi tujuan puncak ibadah puasa, oleh seorang sahabat bernama Ubay bin Ka’ab ra.disifati dengan kewaspadaan yang terus menerus dari seorang beriman dalam menjalani kehidupan, laksana kehati-hatiannya tatkala berjalan di jalanan yang penuh onak duri. Kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap perbuatan dosa ini menjadi prasyarat utama membentuk jiwa berkarakter kebajikan (al-birr).

Karakter kebajikan pada seorang mukmin ditandai dengan ketajaman jiwa, hati nurani atau unsur emosional pada dirinya. Dalam hadits ke-27 dari kumpulan 40 hadits oleh Imam Nawawi, an-Nawwas ibn Sam’aan ra.meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Kebajikan itu adalah kebaikan akhlaq/budi pekerti; dan perbuatan dosa adalah yang membuat jiwamu berguncang –karena ragu- dan sesuatu yang kamu tak ingin orang lain mengetahuinya.” (HR Imam Muslim). Dalam riwayat Wabishah ibn Ma’bad ra.diriwayatkan, aku (Wabishah) datang kepada Rasulallahi saw dan beliau berkata,”Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku (Wabishah) menjawab,”Benar.” Beliau bersabda,”Mintailah fatwa –berkonsultasilah- pada hatimu. Kebajikan itu adalah yang menentramkan jiwamu dan menentramkan hatimu. Adapun perbuatan dosa adalah yang mengguncangkan jiwamu dan berkecamuk di dadamu, meskipun orang-orang memberikan fatwa/legalitas terhadap perbuatan itu.” (HR Imam Ahmad dan Imam ad- Darimi).

Ali karamalLaahu wajhah berkata, ”Pertama-tama capailah pengendalian diri dengan menjauhi perbuatan dosa dan kejelekan. Kemudian akan mudah bagimu untuk membiasakan diri pada ketaatan dan peribadatan kepada Allah.” Pada kesempatan lain beliau berkata, ”Raihlah pengendalian atas dirimu dengan meninggalkan kebiasan-kebiasan (buruk), dan perangilah hawa nafsumu sehingga tunduk kepada kehendak kemauanmu.”

Islam memanfaatkan kekuatan kebiasaan sebagai suatu sarana yang efektif bagi latihan bagi jiwa manusia dan bagi pencapaian kebahagiaan hakikinya. Latihan-latihan ini menciptakan ikatan yang hidup antara.hatinya dengan Allah swt serta menaburkan benih kebajikan dan keutamaan pada jiwa manusia hingga menjadi kebiasaan. Semua kebiasaan keIslaman bersumber dari kerinduan batin yang paling hakiki dan ciri utama dari kesucian jiwa. Lalu kerinduan batin ini diubah menjadi perilaku dan praktek perbuatan spesifik dengan sisi dan ciri-ciri yang diatur dengan jelas dalam syariat. Secara.berangsur-angsur manusia mengambil bentuk kebiasaan ini berdasarkan kesadaran penuh.

Demikianlah, selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan seorang mukmin dilatih dengan berbagai kebiasaan beribadah mendekatkan diri kepada Allah, membaca dan menelaah tuntunan Ilahi pada kitab al-Quran dan melakukan perbuatan baik secara.intensif terhadap sesama melalui berbagai sedekah dan kebaikan lainnya. Pada saat yang bersamaan ia pun dilatih untuk meninggalkan perbuatan dosa dan keburukan. Ia tak boleh berkata bohong atau menyakiti orang lain, serta mesti menghindari pertengkaran yang tidak perlu. Jika ini dilakukan maka kesempurnaan nilai puasanya ternodai. Disebutkan, ”Bukanlah (hakikat) puasa itu sekedar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong.” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Dan Rasulullah saw pun bersabda, ”Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ibadah puasa memang merupakan latihan luar biasa, sebab seorang mukmin bahkan memenuhi perintah Allah untuk meninggalkan sesuatu yang dalam kehidupan di luar Ramadhan merupakan perbuatan boleh (mubah), yaitu makan, minum dan berhubungan intim dengan isterinya sejak waktu fajr hingga terbenam matahari. Keadaan ini menjadi latihan agar meninggalkan hal-hal yang sudah jelas keharamannya lebih mudah dilakukan seorang mukmin.

Dengan berpuasa, seseorang lebih merasakan kedekatan dan pengawasan Allah. “Seluruh amal ibadah anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (Hadits muttafaqun alaihi). Selama berpuasa Allah dirasakan lebih dekat dengan hati seorang mukmin. Seperti diisyaratkan Imam Ali ra.secara.umum, ini adalah buah dari ditinggalkannya perbuatan-perbuatan dosa dan perbuatan jelek, kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu dan meningkatnya ketaatan kepada Allah selama bulan Ramadhan.

Serangkaian ibadah di bulan Ramadhan akan membentuk jiwa kebajikan pada diri mukmin. Ini akan menjadi bekal baginya dalam menjalani kehidupan di dalam dan pasca Ramadhan. Rasulullah saw mengukuhkan keyakinan mukmin akan keutamaan jiwa yang diliputi kebajikan ini dengan sabdanya, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukannya.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Daud)

WaLlahu a’lamu bish shawwab.

Leave a Comment

Menuju Insan saleh

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Al baqarah, 2: 184

Perintah berpuasa pada Ramadhan bertujuan menjadikan manusia menjadi orang bertakwa (QS. 2: 183). Ketakwaan seseorang tidak akan Allah sia-siakan demikian saja. Allah akan membalas orang bertakwa dengan surga dan mereka akan kekal di dalamnya (Ali Imran, 3: 198). Orang yang berhasil mengendalikan nafsunya selama menjalankan ibadah puasa niscaya termasuk orang yang menang. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (An Nur, 24: 52).

Takwa bukan sekedar menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dalam dari itu, takwa mengajarkan solidaritas kemanusiaan dan penegakkan keadilan. Orang bertakwa senantiasa menjadikan manusia lainnya sebagai saudaranya. Orang bertakwa tidak akan menyakiti manusia lainnya. Bagi mereka dalih agama tidak menjadikan ia mempunyai kekuatan alasan untuk membunuh manusia lainnya.

Islam merupakan agama keselamatan. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh orang yang tidak bersalah, bahkan bila ia kafir sekalipun. Islam memiliki pedoman siapa-siapa yang wajib diperangi dan siapa yang tidak. Tidak semua orang kafir boleh dibunuh. Bom yang meledak di Jimbaran dan Kuta, Bali, 1 Oktober 2005 merupakan tindakan pengecut dari segelintir orang. Para pembom hanya berani membunuh orang-orang tak berdaya. Islam mengutuk secara keras pemboman ini. Apalagi menjelang Ramadhan secara tidak langsung pembom ingin mengusik ketenangan beribadah umat Islam di Indonesia. Harmonitas antarumat beragama yang selama ini mulai kembali menguat dipantik untuk kembali resah. Sebuah tantangan baru di Ramadhan sekarang.

Ramadhan bagi sebagian orang merupakan saat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tekun dengan ritualitas keagamaan individual. Tadarus, tilawah, shalat tarawih, tahajud, menghadiri pengajian-pengajian. Semenjak dini hari ketika sahur hingga menjelang tidur dimaksimalkan meraih harapan menjadi orang bertakwa.

Kesalehan individual bukan satu-satunya jalan meraih derajat takwa. Kesalehan individual memang perlu tetapi ia pun memerlukan kesalehan sosial. Allah menyebut orang yang tekun beribadah individual sementara menafikan ibadah sosial sebagai pendusta agama. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Al Maauun, 107: 1-7).

Demikian tegasnya Allah menggolongkan orang yang sering shalat tetapi enggan menolong sesama. Kepekaan diri untuk cerdas memahami kesusahan orang lain harus terpatri dalam diri setiap muslim. Islam sebagai agama pembebasan mengajarkan kepada manusia untuk membebaskan orang tertindas dari ketertindasannya. Ketertindasan kemiskinan, ketertindasan atas dominasi orang lain, ketertindasan atas system yang menghegemoni diri, dll.

Seorang muslim belum disebut muslim sejati jika ia belum membebaskan manusia lain dari ketertindasannya. Tak peduli manusia lainnya itu beragama lain, berjenis kelamin berbeda, bukan dari suku bangsa yang sama, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Alangkah naifnya jika seorang muslim membenci keragaman. Allah sendiri berfirman, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat, 49: 13).

Apalagi di bulan suci ini merupakan saat yang tepat untuk meraih ketakwaan dengan jalan kesalehan sosial. Apalagi dengan pencabutan subsidi BBM bagi rakyat miskin pada 1 Oktober lalu yang melahirkan berjuta orang miskin baru. Orang-orang miskin merupakan ladang dakwah bagi setiap muslim untuk menunjukkan dirinya seorang takwa.

Menyantuni orang miskin tidak saja dengan memberi makan secara langsung. Bisa juga dengan membekali mereka dengan hasta karya sebagai modal bekerja. Lebih baik memberi kail daripada ikan. Kail akan berguna hingga lama, sedangkan ikan akan habis untuk waktu yang singkat. Program pemerintah memberikan kompensasi BBM sebesar seratus ribu rupiah hanya akan meninabobokan saja. Meski di sisi lain uang sebesar itu tidak mencukupi kebutuhan harian orang miskin.

Makna menahan untuk tidak makan, minum di siang hari sebagai pengejawantahan kesalehan sosial. Kita dapat merasakan bagaimana orang-orang miskin tidak makan dan tidak minum karena tidak memiliki makanan dan minuman. Sementara itu tidak sedikit orang yang sakit perutnya karena kekenyangan menyantap segala makanan. Mereka tidak merasa berdosa ketika makan dengan sekenaknya sementara tetangganya si papa menjerit kelaparan.

Ramadhan pun mendidik kita laiknya anak yatim. Anak yatim kehilangan kedua orangtuanya. Orangtua disimbolkan sebagai pelindung, pengayom, pendidik, dan orang yang siap mati untuk kehidupan anaknya. Tidak sedikit sekarang ini orang yang kehilangan pelindung dan pengayom. Bukan kehilangan tapi dihilangkan. Pelindung mereka dihilangkan, pengayom mereka ditenggelamkan. Mereka sebatang kara tiada tempat bergantung. Hanya Allah tempat mereka mengadu.

Ramadhan mendidik kita untuk senantiasa menghargai orang lain. Orang yang tidak berpuasa sudah sewajibnya menghormati yang berpuasa. Demikian pula sebaliknya, jangan semata karena mayoritas umat berpuasa maka semua orang dipaksa puasa. Tetapi biarkanlah mereka tidak berpuasa.

Dibalik kekhusuan ibadah individual ada ritual sosial yang bisa dimaksimalkan untuk menjadi orang bertakwa. Kesalehan sosial hendaknya dibina di bulan penuh ampunan dan berkah. Ramadhan, kawah candradimuka bagi kita untuk mengasah kepekaan sosial. Ramadhan mengajarkan kita untuk bijak menyikapi kehidupan, hanif menghadapi kenyataan hidup yang tidak selamanya sesuai dengan keinginan.

Leave a Comment

Saleh Sosial, Why Not …?

Di ujung tubir senja akhir Sya’ban, maka berniatlah kaum beriman untuk berpuasa sebulan Ramadhan. Tak lain, nereka mendambakan diri menjadi kaum muttaqin (QS, 2: 183). Para muttaqin berharap dapat menghimpun dua kesalehan: nafsi dan jama’i. Yang pertama kesalehan individu atau kata KH Mustofa Bisri kesalehan ritual, ibadah dalam rangka habl min Allah; dan kedua kesalehan sosial, habl min al-nas. Keduanya, seyogyanya tawazzun, berimbang dan syumuli, menyeluruh dan terpadu. Shaum dan qiyam al-Ramadhan menghimpun semua daya melatih badan dan jiwa. Antara konsep fikih dan tasawuf, ibadah syariat, hakikat dan makrifat.

Para fuqaha pada tahap tertentu membatasi definisi awam tentang puasa sebagai menahan dalam makna fisik. Tetapi kaum sufi, hakiki dan bathini, lebih menekankan tawazzun, keseimbangan antara puasa badan dan jiwa. Karena itu Imam Al-Ghazali menyebut puasa kaum khawash al-khawash adalah level tertinggi, sehingga puasa adalah upaya paling prima untuk membersihkan pikiran, perasaan, hati, jiwa atau dhamir.

Tentu saja apa yang dinisbatkan kepada pemahaman kaum fuqaha dan shufi itu tadi, sesuatu yang niscaya dan afirmatif . Saleh secara individual paling tidak berkelanjutan dan khusyuk dalam ibadah, taat dalam menjalankan perintah Allah dan berhenti dari segala yang dilarang-Nya; memelihara diri dari segala yang tercela, bersungguh-sungguh dalam kebaikan, dan rendah hati atau wara’; sambil berusaha untuk menambah rezeki tetap merasa cukup dengan nikmat yang telah dianugrahkan Allah atau qanaah; berani atau syaja’ah dalam menghadapi kesulitan, rintangan dan resiko kehidupan.

Pada dimensi lain, dan ini yang amat alit dan rumit adalah menjadikan puasa dan qiyamu Ramadhan sebagai ujud nyata kesalehan sosial. Di antaranya menumbuhkan dan memelihara sikap dan perilaku yang positif di tengah publik. Misalnya rafiq (santun), tasammuh (toleransi, lapang dada), mau berbagi dan sikap kedermawanan serta ikhlas dalam beramal. Puasa merupakan pemaksaan rasa miskin kepada semua kaum beriman, sebagai repleksi untuk diproyeksikan kepada orang dan kelompok sosial lain yang tidak berpunya. Betapa yang miskin itu merasa lapar, haus, dahaga, letih dan lelah, tetapi tidak merampok, tidak maling dan tidak korup.

Semakinlah kita menjadi miris, bila suatu komunitas tidak punya kohesi sosial yang padu hanya gara-gara ketimpangan ekonomi. Karena itu sikap taawwun, tolong menolong dan bantu membantu dalam kebaikan termasuk rezeki yang halal, politik yang berbudaya dan etis, harmoni sosial, rukun dalam kekeluargaan, semuanya merupakan pencerminan kesalehan sosial. Semakin banyak kaum berpunya berpihak atau pro-dhuafa, fakir dan miskin, seyogyanya semakin kokoh kehesi sosial itu.

Dari dimensi lain, kesalehan sosial, sebenarnya secara built-in (terbangun dari dalam) sikap keberagamaan atau religiusitas itu sendiri. Menghormati dalil yang dipegang oleh kelompok komunitas tertentu dalam beribadah dan beramal sesuai ilmu dan keyakinan yang berdasarkan dalil yang kuat (rajih), agaknya termasuk di dalam bingkai kesalehan sosial. Setelah wafatnya Rasulullah saw, dan selesainya priodesasi kekhalifahan khulafaurrasyidin, telah terjadi perbedaan penafsiran, pemahaman dan pelaksanaan beberapa konsep dan bentuk ibadah mahdhah dan muamalah atau ibadah sosial. Bahkan di dalam konteks fikih dan syariat secara umum serta akidah ushuliyyin pun sudah dimaklumi adanya beberapa mazhab. Menghormati pendapat-pendapt yang majemuk demikian pun agaknya tidak lepas dari bingkai kesalehan sosial. Oleh karena itu, perbedaan dimulainya awal Ramadhan, awal Syawal dan Zulhijjah untuk menentukan awal puasa, Idul Fitri dan Idul Adhha, merupakan dimensi lain dari kesalehan sosial. Justeru bila hal itu masih dipersoalkan oleh kalangan tertentu, substansinya dalam kesalehan sosial menjadi tidak relevan lagi. Yang pokok, rujukan pendapat dan praktik produk itu semuanya, haruslah al-Quran , sunnah shahihah dan ilmu pengetahuan yang syah. Penghormatan yang proporsional atas perbedaan-perbedaan itu, menambah makna kaitan puasa sebagai ibadah ritual yang individual, sekaligus repleksi ibadah untuk kesalehan sosial.

Leave a Comment

RAMADHAN DAN SPRITUALITAS KITA

Oleh : Decky Umamur Rais *)
Akhir bulan ini umat muslim akan memasuki fase baru dalam rutinitas ibadahnya. Pada ramadhan ini umat muslim harus menunaikan kewajiban sebagian keyakinanya. Bulan ramdhan akan menjadi titik balik perjalanan ibadah umat muslim selama satu tahun menuju fitrahnya (kesucian jiwa).
Bulan ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat bagi umat muslim untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai spritualitasnya. Intropeksi diri adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merevitalisasi kemabli kualitas diri kkita. Rutinitas keseharian dalam hidup kita kadang kala membuat kualitas pribadi kita menurun drastis. Mengukur kualitas pribadi, kita bisa melihat tindakan dan perbuatan kita sehari-hari, apakah tindakan-tindakan kita itu telah bernilai ibadah.
Bagi sebagian umat muslim memahami ramadhan hanya berpengaruh pada terbentunya kesalehan ibadah semata, padahal banyak ritualitas ramadhan yang bisa membuat kita saleh secara sosial (kesalehan sosial). Ketika dua dimensi kesalehan ini kita upayakan untuk digabungkan, secara tidak langsung kita telah menata jalur hidup kita kearah yang lebih positif, bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Kegagalan kita menerjemahkan puasa adalah ketika puasa hanya dikaitkan dengan persoalan syurga dan neraka saja. Banyak pelajaran atau hikmah yang terkandung dalam puasa yang bisa kita implementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Puasa bukan hanya persolan bagaiaman kita bisa menahan lapar dan haus selama satu hari, tapi puasa lebih dari itu.
Ibadah puasa tidak hanya membicarakan, bahwa puasa itu adalah sarana peningkatan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Pada faktor itu memang benar, tapi ada faktor lain yang bisa kita sentuh, dimana nilai kualitas ibadahnya tidak kalah dengan hanya menahan lapar dan haus. Ibadah puasa bisa dijadikan sarana peningkatan kualitas ibadah sosial kita. Nilai kebajikan, kebaikan, keihlasan, keridloan dan kepedulian kita terhadap sesama jangan sampai tercerabut dari makna puasa itu sendiri. Jika nilai-nilai itu terlepas dari tindakan ibadah puasa, secara tidak langsung kita telah melakukan hal yang sia-sia. Ibadah puasa hanya diartikan sebagai syarat untuk melengkapi rukun islam yang harus kita laksanakan.
Pendefinisian puasa secara harfiah adalah perbuatan menahan lapar dan haus selama satu hari. Pernahkan kita bertanya, apakah yang akan kita peroleh dari menahan lapar dan haus? Pengaruh apa yang bisa diberikan oleh puasa pada fisik dan jiwa kita? Pertanyaan ini harus sering kita lontarkan dalam diri kita, agar kita bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan dalam puasa. Bukan tidak mungkin kita bisa melogikan atau meng-ilmiahkan esensi puasa. Puasa bukanlah sesuatu yang abstrak, puasa itu adalah perbuatan yang kongkrit dan erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari.
Ibadah puasa tahun ini mungkin agak sedikit berbeda dibanding puasa tahun kemarin, puasa kali ini sedikit lebih berat. Kenapa lebih berat? Pada tahun ini terjadi kenaikan BBM, kondisi ini secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada pelaksanaan ibadah puasa kita. Bagaiamana tidak? barang kebutuhan pokok untuk menjalankan ibadah puasa ikut terkena ekses kenaikan BBM, satu minggu menjelang bulan ramadhan fharga kebutuhan pokok mulai naik.
Dengan kondisi seperti ini, ibadah puasa tahun ini benar-benar membtuhkan perjuangana berat. Berat secara psikologis karena kita harus melaksanakan kewajiban juga berat dalam anggaran karena biaya kebutuhan untuk puasa ikut naik apalagi untuk ekonomi golongan menengah kebawah. Belum lagi kalau kita umat muslim memikirkan nanti diahir bulan puasa tepatnya menjelang hari raya idul fitri tentu ini akan menjadi persoalan tersendiri.
Amat bijaksana jika sekiranya tantangan ibadah bulan puasa yang berat ini dijadikan cara untuk menyadarkan moral dan spritual kita menjadi lebih baik. menata diri menjadi lebih sadar, lebih telaten, lebih perhatian, lebih ulet, lebih tekun, dan lenih peduli terhadap sesama. Melihat kondisi ini kita harus berpikir lebih fiosofis lagi untuk mtuk menjadi bijak dan lebih realistis memahami konteks puasa ini.
Lapar dan haus akan memberikan kita pelajaran, bagaimana susahnya menjalani hidup sebagai orang yang suasah (kurang mampu). Kesucucian bulan ramadhan ini tidak hanya bulannya saja yang suci tapi spritualitas kitapun harus suci. Adil rasanya jika kita umat muslim pada bulan ini bisa menahan keinginan untuk membeli barang-barang mewah, mengekang hawa dan nafsu agar tidak konsumtif. Kekanglah sifat pamer dan hdup mewah, santuni dan bantulah saudara-saudara kita yang masih membutuhkan. Tindakan-tindakan itu akan mendorong kita lebih berempati dan bersaimpati pada sesama muslim yang kehidupan ekonominya jauh kurang beruntung dibanding kita.
`spirit untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, kita latih, kita asah kepekaan hati nurani kita selama ramadahan ini. Ramadhan jaggan hanya dijadikan seremonial belaka, tapi jadikanlah ramadhan ini sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan kepada sesama manusia. Perkuat jalinan silaurrahmi santuni orang-orang yang tidak mampi, niscaya bulan ramadan akan membentuk insan yang berkarakter intelelektualis, bernurani, amanah serta mengerti penderitan orang-orang lain.
Dengan demikian diharapkan nilai moral dan spiritual ibadah puasa kita akan menjadikan kita orang-orang yang saleh, saleh secara ibadah juga saleh secara sosial. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga Allah SWT selalu me-rahmati dan me-ridloi kita. amin.

*) Penulis adalah Mahasiswa Administrasi Negara Fisip Unej juga Ketua PPD HMI Cabang Jember

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.